Trading & kelola akun MT di Aplikasi HSB Trading
store google
Cara Menghitung Tingkat Inflasi Paling Akurat

Memahami tingkat inflasi memiliki signifikansi besar dalam upaya kamu untuk menganalisis perubahan harga yang mampu mempengaruhi daya beli konsumen, dinamika pertumbuhan ekonomi, dan bahkan kebijakan moneter suatu negara.

Selain faktor-faktor pemicu inflasi yang penting dipahami, sebagai seorang trader yang berpengalaman, kamu juga diharapkan untuk menguasai berbagai metode yang digunakan dalam menghitung tingkat inflasi. Perbedaan metode-metode ini perlu menjadi bagian esensial dari pengetahuanmu. Melalui artikel ini, kami akan menguraikan metode penghitungan inflasi yang perlu kamu ketahui.

Cara menghitung inflasi yang pertama dapat dilakukan dengan menggunakan metode IHK (Indeks Harga Konsumen)

1. Menghitung Inflasi dengan IHK

Inflasi adalah suatu keadaan di mana harga-harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan secara berkelanjutan selama periode waktu tertentu. Ketika inflasi terjadi, hal itu dapat menurunkan daya beli masyarakat dan mengganggu stabilitas ekonomi negara secara menyeluruh. 

Lalu, bagaimana tingkat inflasi diukur? Cara menghitung inflasi yang pertama dapat dilakukan dengan menggunakan metode IHK (Indeks Harga Konsumen)

Apa itu IHK?

Indeks Harga Konsumen (IHK) adalah suatu ukuran statistik yang digunakan untuk mengukur perubahan harga rata-rata dari sekelompok barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga dalam suatu periode waktu tertentu.

Proses penghitungan IHK di Indonesia biasanya dilakukan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) dengan beberapa langkah. Pertama, BPS akan menyeleksi ribuan barang dan jasa di pasar yang mencerminkan pola konsumsi rumah secara umum. Selain itu, barang dan jasa tersebut harus bisa menggambarkan varian harga di pasar.

Selanjutnya, data harga barang dan jasa tersebut dikumpulkan secara berkala dan setelah terkumpul, akan diolah untuk dilakukan menghitung indeks. Hasil perhitungan indeks IHK digunakan untuk membandingkan harga pada periode tertentu dengan periode dasar yang biasanya ditetapkan sebagai indeks 100.

Jika indeks naik di atas 100, itu menunjukkan adanya inflasi atau kenaikan harga, sedangkan jika indeks turun di bawah 100, itu menunjukkan deflasi atau penurunan harga. Indeks IHK tersebut dapat dipecahkan menjadi komponen-komponen harga yang lebih rinci, seperti indeks harga makanan, perumahan, kesehatan, atau pendidikan. Hal ini memungkinkan analisis yang lebih mendalam terhadap perubahan harga pada sektor-sektor tertentu dalam perekonomian.

Data IHK yang telah diolah akan digunakan oleh pemerintah untuk mengukur inflasi, memantau perubahan harga, dan menyesuaikan kebijakan moneter dan fiskal dalam negeri. 

Cara Menghitung Inflasi dengan IHK

Rumus Laju Inflasi dengan IHK

Rumus umum cara menghitung laju inflasi dengan menggunakan IHK adalah sebagai berikut:

Laju Inflasi = ((IHK tahun yang diukur - IHK tahun sebelumnya) / IHK tahun sebelumnya) x 100%

 

Dalam rumus ini, IHK tahun yang diukur adalah indeks harga konsumen pada tahun tertentu yang ingin diukur inflasinya. Sedangkan IHK tahun sebelumnya adalah indeks harga konsumen pada tahun sebelumnya sebagai acuan perbandingan. Selisih antara IHK tahun yang diukur dan IHK tahun sebelumnya kemudian dibagi dengan IHK tahun sebelumnya, dan hasilnya dikalikan dengan 100% untuk menghasilkan persentase laju inflasi.

Misalnya, jika IHK pada tahun 2022 adalah 120 dan IHK pada tahun 2021 adalah 110, maka rumus laju inflasi akan menjadi:

 Laju Inflasi = ((120 - 110) / 110) x 100% = 9,09%

 Jadi, laju inflasi pada tahun 2022 adalah 9,09% berdasarkan perubahan IHK dari tahun 2021 ke tahun 2022.

2. Menghitung Inflasi dengan IHP

IHP sering dijadikan sebagai acuan untuk mengukur tekanan inflasi yang dihadapi oleh konsumen. Jika IHP naik, maka harga barang dan jasa yang dihasilkan produsen juga naik, sehingga kemungkinan harga barang dan jasa yang dijual ke konsumen juga akan naik.

Apa itu IHP?

Indeks Harga Produsen (IHP) adalah sebuah indikator ekonomi yang mengukur perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang dijual oleh produsen dalam suatu negara atau wilayah tertentu dalam periode waktu tertentu. IHP sering digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengukur jenis inflasi atau tekanan harga di tingkat produsen.

IHP dihitung dengan membandingkan harga-harga barang dan jasa dalam satu periode waktu tertentu, biasanya bulanan atau tahunan, dengan harga-harga yang sama dalam periode waktu sebelumnya. Dalam perhitungan IHP, harga-harga barang dan jasa di pasar diwakili oleh sejumlah barang dan jasa dari berbagai sektor ekonomi.

Perubahan IHP dapat memberikan gambaran tentang pergeseran harga yang dihadapi oleh produsen dalam menghasilkan barang dan jasa. Jika IHP mengalami kenaikan, hal ini dapat mengindikasikan adanya tekanan inflasi di tingkat produsen, yang mungkin akan mengarah pada kenaikan harga barang dan jasa di tingkat konsumen. Sebaliknya, jika IHP mengalami penurunan, hal ini dapat mengindikasikan deflasi, yaitu penurunan harga barang dan jasa secara umum.

IHP digunakan oleh pemerintah, bank sentral, dan analis ekonomi untuk memantau perubahan harga di tingkat produsen dan mengantisipasi potensi perubahan harga di tingkat konsumen. Data IHP juga dapat digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi, kebijakan moneter, dan perencanaan bisnis.

Cara Menghitung Inflasi dengan IHP

Rumus Laju Inflasi dengan IHP

Rumus cara menghitung laju inflasi berdasarkan Indeks Harga Produsen adalah:

Laju Inflasi = [(IHP saat ini - IHP sebelumnya) / IHP sebelumnya] x 100%

 

Meskipun rumus perhitungan laju inflasi IHP sama dengan rumus laju inflasi IHK, keduanya mempunyai perbedaan sebagai berikut:

  1. Sumber Data: IHK menghitung inflasi berdasarkan perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi, sedangkan IHP berdasarkan perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang dihasilkan produsen.
  2. Tujuan Penghitungan: IHK digunakan untuk memberikan gambaran tentang tingkat inflasi yang dirasakan oleh konsumen atau masyarakat umum. Sedangkan IHP digunakan untuk gambaran tentang perubahan harga bahan baku dan biaya produksi.
  3. Jenis: IHK menghitung perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi, seperti makanan, pakaian, perumahan, transportasi, dan lain-lain. Sedangkan IHP menghitung perubahan harga barang dan jasa yang dihasilkan oleh produsen, seperti bahan baku, barang modal, dan biaya tenaga kerja.
  4. Penggunaan Data: Data IHK digunakan untuk mengambil kebijakan moneter, kebijakan fiskal, atau kebijakan ekonomi lainnya yang berhubungan dengan konsumsi masyarakat. Sedangkan data IHP digunakan untuk analisis kebijakan ekonomi yang berhubungan dengan produksi dan investasi.

3. Menghitung Inflasi dengan Produk Domestik Bruto

PDB (Produk Domestik Bruto) merupakan sebuah indikator ekonomi yang digunakan untuk mengukur nilai total seluruh barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam jangka waktu tertentu. PDB digunakan sebagai salah satu ukuran untuk mengukur kesehatan ekonomi suatu negara.

Apa itu PDB?

PDB adalah singkatan dari Produk Domestik Bruto, juga dikenal sebagai Gross Domestic Product (GDP) dalam bahasa Inggris. PDB mengukur total nilai pasar dari semua barang dan jasa yang diproduksi oleh sebuah negara dalam satu tahun. Ini mencakup nilai tambah dari produksi di semua sektor ekonomi, termasuk pertanian, industri, dan jasa.

PDB dihitung dengan menggabungkan nilai tambah dari semua sektor ekonomi dalam satu negara, dikurangi dengan nilai impor barang dan jasa, dan ditambah dengan nilai ekspor barang dan jasa. PDB juga dapat diukur sebagai pengeluaran, yaitu total belanja konsumen, investasi, dan pengeluaran pemerintah, ditambah dengan ekspor bersih.

PDB adalah salah satu indikator utama kesehatan ekonomi suatu negara dan digunakan oleh pemerintah, perusahaan, dan investor untuk mengukur pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan. 

Cara Menghitung Inflasi dengan Produk Domestik Bruto

Rumus Laju Inflasi dengan PDB

Rumus cara menghitung laju inflasi menggunakan PDB sama dengan IHK ataupun IHP, yaitu:

Laju Inflasi = ((PDB Tahun Ini - PDB Tahun Sebelumnya) / PDB Tahun Sebelumnya) x 100

Adapun, perbedaan perhitungan laju inflasi menggunakan PDB adalah sebagai berikut:

  • PDB mengukur nilai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode waktu tertentu.
  • PDB dihitung dengan mengurangi nilai output tahun ini dari nilai output tahun sebelumnya, dan menghitung perubahan persentase dari nilai tersebut.
  • PDB dapat digunakan sebagai indikator inflasi karena perubahan harga barang dan jasa dapat mempengaruhi nilai output ekonomi suatu negara.

Hasil dari penghitungan inflasi dapat menjadi pertimbanganmu ketika akan melakukan transaksi jual beli atau trading valuta asing forex di pasar keuangan. Dengan memahami tingkat inflasi suatu negara, Sobat Trader bisa menganalisa peluang profit yang dapat diraih dari pasangan mata uang yang akan ditransaksikan. 

Selain melakukan analisa fundamental tingkat inflasi negara yang mengeluarkan mata uang forex, Sobat Trader juga bisa melakukan analisa teknikal dengan melihat grafik pergerakan harga di pasar secara real-time. Untuk itu, kamu memerlukan aplikasi trading andal seperti HSB Investasi, sebagai aplikasi broker forex terbaik di Indonesia.

Raih peluang profit pergerakan harga real time dengan akun trading live HSB

Dengan dukungan sistem trading berbasis website dan MetaTrader 5, di HSB, kamu bisa menggunakan beragam fitur trading modern untuk membantumu meraih peluang profit dari pergerakan harga di pasaran. Cukup dengan meregistrasikan akun trading-mu, melakukan verifikasi data diri KYC, dan melakukan transfer deposit ke segregated account HSB, kamu sudah bisa menjadi bagian dari transaksi keuangan terbesar di dunia!

DISCLAIMER

Artikel ini ditujukan sebatas sebagai sumber informasi dan edukasi serta tidak ditujukan sebagai sumber utama pemberian saran. Perlu dipahami bahwa aktivitas finansial investasi dan trading memiliki tingkat risiko yang perlu dikelola dengan baik. Pastikan Sobat Trader telah memahami potensi risiko yang mungkin muncul agar dapat meminimalisir kerugian di masa yang akan datang.

DISCLAIMER
Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, ditujukan hanya sebagai sumber pembelajaran dan bukan sebagai saran dalam pengambilan keputusan. Perlu Anda pahami bahwa produk dengan leverage tinggi memiliki potensi risiko kerugian yang juga tinggi, sehingga perlu dikelola dengan baik melalui pemahaman dan kemampuan analisa yang tepat. HSB Investasi tidak bertanggung jawab atas kesalahan keputusan yang dibuat berdasarkan konten ini. Sesuai ketentuan yang berlaku, HSB hanya menyediakan 45 instrumen trading yang dapat Anda pelajari di website resmi kami.

Trading Bebas Risiko dengan Akun Demo HSB1

Silahkan masukan nomor HP

Nomor Handphone harus dimulai dengan 8

Nomor HP tidak valid

Kode verifikasi dperlukan

Kode verifikasi salah

Silakan masukkan password

Kata sandi harus 8-30 digit, termasuk huruf kecil, kapital, dan angka

Minimal 8 karakter

Setidaknya 1 angka

Setidaknya 1 huruf besar

Setidaknya 1 huruf kecil

Satu juta download!
Artikel Lainnya

Trading Bebas Risiko dengan Akun Demo HSB

Silahkan masukan nomor HP

Nomor Handphone harus dimulai dengan 8

Nomor HP tidak valid

Kode verifikasi dperlukan

Kode verifikasi salah

Silakan masukkan password

Kata sandi harus 8-30 digit, termasuk huruf kecil, kapital, dan angka

Minimal 8 karakter

Setidaknya 1 angka

Setidaknya 1 huruf besar

Setidaknya 1 huruf kecil

Satu juta download!
bonus tanpa deposit
Mulai Pengalaman Trading Terbaik