Hindari 10 Waktu Trading Berbahaya Berpotensi Rugi!
Salah satu faktor penting dalam trading forex bukan cuma soal analisis teknikal atau fundamental, tapi juga pemilihan waktu trading. Banyak trader merasa sudah profit, tapi tiba-tiba loss setelahnya. Sering kali, penyebabnya bukan karena salah analisis—melainkan salah timing.
Jangan sampai kamu masuk pasar di waktu yang justru berisiko tinggi tanpa persiapan. Berikut beberapa waktu trading yang sebaiknya kamu hindari.
1. Setelah Berita Besar Rilis
Rilis data besar seperti suku bunga, inflasi, atau data ketenagakerjaan bisa membuat pasar bergerak sangat liar. Harga bisa melonjak atau anjlok dalam hitungan detik.
Risikonya?
- Volatilitas ekstrem
- Slippage (harga eksekusi berbeda dari harga yang kamu klik)
- Terjadi gap harga
Kalau belum terbiasa menghadapi pergerakan cepat, sebaiknya tunggu sampai pasar lebih stabil sebelum masuk posisi.
2. Saat Kamu Sedang Sibuk Secara Pribadi
Trading butuh fokus. Ketika kamu sedang ada masalah keluarga, pekerjaan menumpuk, atau pikiran bercabang, keputusan trading cenderung impulsif.
Kesalahan kecil dalam kondisi tidak fokus bisa berujung pada kerugian besar. Lebih baik rehat sejenak daripada memaksakan open posisi.
3. Weekend
Pasar forex tutup di akhir pekan. Tapi risiko muncul saat pembukaan hari Senin karena bisa terjadi weekend gap akibat berita atau peristiwa global.
Banyak trader memilih menunggu beberapa jam setelah market open untuk melihat arah pasar sebelum mengambil keputusan.
4. Tanggal Merah
Saat pasar utama tutup karena hari libur global, volume perdagangan bisa menurun drastis. Dampaknya:
- Pergerakan harga lebih lambat
- Atau justru jadi tidak stabil karena likuiditas tipis
Volume rendah bisa membuat harga bergerak tidak wajar dan spread melebar.
5. Emosi Tidak Stabil
Trading dalam kondisi takut, marah, sedih, atau terlalu percaya diri sangat berbahaya.
Emosi seperti:
- Ketakutan → ragu-ragu ambil peluang
- Keserakahan → overtrade
- Marah → revenge trading
Jika kondisi mental tidak stabil, lebih baik menunda trading.
6. Saat Sesi Overlapping
Sesi overlapping (London–New York) memang punya volume tinggi. Tapi volatilitasnya juga meningkat tajam.
Bagi trader berpengalaman ini bisa jadi peluang, tapi untuk pemula justru berisiko karena pergerakan harga sangat cepat dan agresif.
7. Awal dan Akhir Minggu
Hari Senin sering kali belum menunjukkan arah tren yang jelas. Sementara Jumat sore cenderung terjadi penutupan posisi besar-besaran.
Volume bisa menurun dan harga bergerak tidak stabil.
8. Saat Bad Mood
Mood buruk bisa memengaruhi objektivitas. Kurang tidur, sedang ada musibah, atau kondisi fisik lelah sangat berpengaruh pada kualitas keputusan trading.
Trading butuh kondisi mental prima.
9. Saat Terlalu Bahagia
Profit beruntun memang menyenangkan. Tapi euforia berlebihan sering memicu overconfidence.
Merasa “pasti profit lagi” adalah awal dari kesalahan manajemen risiko.
10. Mengalami Loss Berturut-turut
Loss beruntun sering memicu keinginan balas dendam ke market (revenge trading). Trader ingin “mengembalikan” kerugian secepat mungkin.
Inilah momen paling berbahaya.
Jika sudah loss beberapa kali, berhenti sejenak. Evaluasi. Jangan lanjut hanya karena emosi.
Pertanyaan tentang Waktu Trading Berbahaya
Waktu trading forex yang paling berisiko biasanya terjadi setelah rilis berita ekonomi berdampak tinggi, saat sesi overlapping dengan volatilitas ekstrem, serta ketika pasar baru buka setelah akhir pekan. Pada momen ini, harga dapat bergerak sangat cepat dan sulit diprediksi.
Trading saat rilis berita besar tidak selalu berbahaya, tetapi risikonya meningkat karena volatilitas tinggi dan potensi slippage. Trader pemula disarankan menunggu hingga pergerakan harga lebih stabil sebelum membuka posisi.
Emosi seperti takut, marah, serakah, atau terlalu percaya diri dapat memengaruhi pengambilan keputusan. Kondisi emosional yang tidak stabil sering menyebabkan overtrading, revenge trading, dan pelanggaran trading plan sehingga meningkatkan risiko kerugian.
Awal minggu sering kali belum menunjukkan arah tren yang jelas, sementara akhir minggu dapat mengalami penurunan volume karena banyak trader menutup posisi. Keduanya bisa meningkatkan risiko jika tidak disertai analisis dan manajemen risiko yang baik.
Untuk mengurangi risiko, trader dapat memantau kalender ekonomi, menghindari trading saat kondisi emosional tidak stabil, menggunakan manajemen risiko yang disiplin, serta berlatih terlebih dahulu melalui akun demo trading sebelum menggunakan dana riil. Kapan waktu trading forex yang paling berisiko?
Apakah trading saat rilis berita besar selalu berbahaya?
Mengapa emosi memengaruhi hasil trading forex?
Apakah awal minggu dan akhir minggu aman untuk trading forex?
Bagaimana cara mengurangi risiko saat memilih jam trading forex?
Waktu trading yang salah bisa membuat strategi terbaik sekalipun gagal. Karena itu, penting memilih broker yang menyediakan lingkungan trading aman dan transparan.
Salah satu broker yang telah terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi adalah HSB Investasi. Dengan regulasi resmi, sistem yang transparan, dan dukungan edukasi, trader bisa lebih tenang saat mengakses pasar global.
Kamu bisa mencoba aplikasi HSB Investasi sebagai broker forex terbaik di Indonesia yang hadir dengan:
- Latihan dengan akun demo gratis $10,000.
- Produk lengkap: forex, saham Amerika Serikat, indeks global (Hang Seng, SP500, atau Dow Jones index), dan komoditas (XAUUSD, XAGUSD, USOIL).
- Gunakan MetaTrader 5 dengan 38 indikator teknikal, sinyal trading, dan AI trading interaktif pertama di Indonesia.
-
CS online 24 jam Senin-Jumat. Siap bantu kalau kamu butuh support saat proses KYC.
Yuk, download aplikasi HSB Investasi Android dan iOS sekarang! Mulai dari deposit kecil, latihan strategi di akun demo, lalu kembangkan modalmu di akun real. Saatnya jadi trader yang lebih percaya diri.




