Home Pengetahuan Keuangan Resesi Adalah: Penyebab, Dampak, dan Tips Menghadapinya

Resesi Adalah: Penyebab, Dampak, dan Tips Menghadapinya

by HSB
0 comment

Topik mengenai resesi adalah salah satu topik yang banyak diperbincangkan di berbagai platform komunikasi dunia. Tak hanya membahas penyebabnya, dampak resesi ekonomi di berbagai aspek kehidupan juga banyak ditakutkan banyak orang.

Resesi adalah istilah yang digunakan untuk merepresentasikan kondisi anjloknya perekonomian suatu negara atau bahkan dunia karena beberapa faktor krusial. Mengapa resesi ekonomi begitu ditakutkan? Apa saja penyebab dan dampak resesi ekonomi bagi kehidupan kita? Gali lebih dalam tentang resesi di bawah ini ya, Sobat Trader.

Apa itu Resesi?

Resesi biasanya digunakan untuk menggambarkan keadaan perputaran ekonomi suatu negara yang kian melambat atau bahkan merosot jatuh.

Sebuah negara dapat dikatakan mengalami resesi ekonomi dilihat dari tingkat Produk Domestik Bruto (PDB)-nya yang bernilai negatif, tingkat pengangguran yang meningkat, hingga merosotnya pertumbuhan ekonomi dalam dua kuartal berturut-turut.

Baca Juga: Kenali Jam Sesi Trading Forex dan Raih Peluang Keuntungannya!

Apa saja Penyebab Resesi?

Lembaga moneter dunia, International Monetary Fund (IMF) dalam rilis laporannya pada minggu pertama Bulan Oktober 2022 memprediksi adanya potensi resesi ekonomi yang akan menimpa banyak negara maju dunia. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa resesi ekonomi 2023 akan menyumbang hingga sepertiga kemerosotan ekonomi global.

Ada banyak faktor yang melatarbelakangi fase resesi ekonomi. Berikut adalah 8 faktor penyebab resesi yang perlu Sobat Trader ketahui.

1. Tingginya Inflasi atau Deflasi

Tingginya Inflasi atau Deflasi

Tingginya Inflasi atau Deflasi

Penyebab pertama resesi adalah tingginya tingkat inflasi atau deflasi. Inflasi merupakan kondisi kenaikan harga sejumlah barang dan jasa yang berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat.

Selain berakibat pada menurunnya kemampuan beli masyarakat, Inflasi tinggi juga akan mempengaruhi keseimbangan produksi barang dan jasa hingga akhirnya akan menyebabkan goncangan pada nilai Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut.

Sedangkan deflasi adalah kondisi ekonomi yang merupakan kebalikan dari inflasi dimana harga barang dan jasa mengalami kemerosotan drastis hingga memberikan ancaman resesi ekonomi.

Penyesuaian kebijakan The Fed dapat menjadi salah satu upaya untuk mengontrol tingkat inflasi yang terjadi dan menghindarkan risiko resesi.

2. Ketidakseimbangan Produksi dan Konsumsi

Daya beli masyarakat yang tidak seimbang dapat menjadi faktor penting yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pada prinsipnya, semakin tinggi aktivitas ekonomi yang terjadi, akan semakin kuat pula kemampuan belanja masyarakatnya.

Permintaan akan barang dan jasa yang tinggi harus diimbangi dengan jumlah produksi yang sesuai. Jika tidak, maka akan terjadi kelangkaan barang dan jasa di tengah masyarakat.

Contoh kelangkaan barang yang paling relevan terjadi pada awal pandemi Covid 19 Indonesia saat permintaan masker medis dan produk hand sanitizer begitu besar, namun proses produksi berjalan tidak sejalan dengan permintaan yang ada.

Kondisi ini menyebabkan harga barang-barang yang mengalami kelangkaan meroket sangat tinggi hingga tidak tergapai oleh daya beli masyarakat. Itulah mengapa keseimbangan antara produksi dan konsumsi sangat penting untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang sehat.

3. Guncangan Ekonomi yang Mendadak

Guncangan Ekonomi yang Mendadak

Guncangan Ekonomi yang Mendadak

Tingginya inflasi, menurunnya daya beli masyarakat, hingga ketidakseimbangan produksi dan konsumsi dapat menciptakan guncangan ekonomi yang mendadak.

Masyarakat dengan aktivitas ekonomi pasif dan tidak adanya dana darurat dapat membawa negara pada tumpukkan hutang untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya.

Hutang yang menggunung tentu saja bukan pertanda pertumbuhan ekonomi yang baik hingga negara yang mengalaminya terpaksa mempersiapkan diri menghadapi resesi.

4. Nilai Impor Lebih Besar dari Ekspor

Nilai Impor Lebih Besar dari Ekspor

Nilai Impor Lebih Besar dari Ekspor

Aktivitas ekonomi ekspor impor memiliki andil yang cukup besar bagi pendapatan suatu negara. Namun demikian, aktivitas ini juga bisa membawa risiko menghadapi resesi jika nilai impor ternyata lebih besar dari nilai ekspor.

Salah satu contoh kondisi ekonomi ini adalah pada awal kemunculan pandemi Covid 19 dimana masyarakat dunia mengalami kelangkaan peralatan medis seperti masker, perangkat APD, dan peralatan medis lainnya hingga Pemerintah Indonesia harus berupaya mengimpornya dari negara tetangga.

Defisit anggaran belanja akibat besarnya nilai impor dibandingkan nilai ekspor yang tidak ditopang oleh kecukupan dana darurat dapat menyebabkan negara tersebut mengalami resesi ekonomi.

5. Pertumbuhan Ekonomi Merosot selama Dua Kuartal Berturut-turut

Jika Sobat Trader melihat nilai Produk Domestik Bruto suatu negara mengalami penurunan hingga dua kuartal berturut-turut, ini menjadi indikasi kemungkinan akan terjadi resesi.

6. Perkembangan Teknologi

Mengapa perkembangan teknologi menjadi salah satu penyebab resesi? Kecanggihan ilmu teknologi saat ini sudah dapat menggantikan tugas dan peran manusia yang sesungguhnya dengan kemampuan Artificial Intelligence (AI).

Jika sebuah perusahaan memutuskan untuk menggantikan pegawainya dengan kecanggihan teknologi, maka akan terjadi fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), lapangan kerja akan semakin menyusut, dan tentunya angka pengangguran akan semakin meroket.

Jika lapangan kerja mengalami kelangkaan, daya beli dan pertumbuhan ekonomi tentu akan merosot tajam yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya resesi.

7. Tingkat Pengangguran Tinggi

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa angka pengangguran yang tinggi memiliki dampak yang signifikan pada potensi risiko resesi.

Tingginya tingkat penganguran pada saat itu berbanding terbalik dengan penurunan laba perusahaan dan pertumbuhan ekonomi secara umum.

Kondisi era covid 19 yang tidak pasti dan diberlakukannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia pada akhirnya memukul mundur banyak perusahaan yang terpaksa gulung tikar akibat tidak dapat menutupi biaya operasionalnya.

Tentu saja kondisi ini memberikan kontribusi pada meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia, bertambahnya sejarah perusahaan yang tumbang, dan meningkatnya risiko resesi ekonomi akibat hantaman Covid 19.

8. Pecahnya Gelembung Aset

Laporan kinerja dan laba perusahaan atau laporan perekonomian suatu negara menjadi acuan fundamental penting yang dapat menarik investor untuk berinvestasi.

Jika rapot kinerja ekonomi bernilai negatif, mengalami penurunan secara terus-menerus, hingga upaya menaikkan suku bunga untuk menyeimbangkan inflasi gagal dan tidak menunjukkan potensi perbaikan, akan sangat wajar jika banyak investor yang kabur dan menarik semua investasinya.

Tanpa adanya kontribusi dana investor, ancaman jurang resesi ekonomi resesi akibat pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif akan menghantui.

Baca Juga: Apakah Trading Saham Halal atau Haram? Begini Penjelasannya!

Resesi 2023 Karena Apa?

Topik gelapnya perekonomian dunia di tahun 2023 akibat resesi global sedang ramai dibicarakan oleh berbagai lapisan masyarakat dunia. Tahukah kamu penyebab resesi 2023 karena apa? Setidaknya ada dua penyebab utama yang melatarbelakangi risiko resesi 2023, yaitu:

1. Kenaikan Suku Bunga

Alasan pertama yang mencuat tiap kali membahas potensi resesi ekonomi 2023 adalah kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, yang pada tahun ini naik hingga 5 kali lipat untuk mengatur tingginya tingkat inflasi yang terjadi di Negeri Paman Sam Itu.

Tindakan The Fed ini turut mempengaruhi kebijakan Bank Sentral lainnya di berbagai negara di dunia.

2. Ketegangan Geopolitik

Ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina menyumbang dampak yang besar bagi risiko resesi ekonomi di tahun 2023.

Konflik keduanya menyebabkan terhambatnya bahkan kelangkaan beberapa jenis komoditas di berbagai wilayah dunia. Terhambatnya pasokan ini akan membuat bengkak biaya operasional negara yang terpaksa mengimpor komoditas untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya.

Baca Juga: Apa Itu Suku Bunga Flat dan Efektif? Simak Lengkapnya!

Dampak Resesi Ekonomi

Dampak Resesi Ekonomi

Dampak Resesi Ekonomi

Resesi adalah salah satu kondisi perekonomian yang ditakuti oleh banyak orang di dunia. Tentunya kondisi ini memberikan dampak yang besar bagi keberlangsungan suatu negara. Lantas, apa saja dampak resesi? Berikut penjelasannya:

Terhadap Pemerintahan

Resesi yang terjadi akan memaksa pemerintah suatu negara bekerja ekstra keras untuk mencegah kebangkrutan. Selain harus menyelesaikan tantangan tingginya tingkat pengangguran, pemerintah juga harus memutar otak untuk meningkatkan daya beli pemerintah dan masyarakat umum.

Akan tetapi, seringkali pemerintah dihadapkan pada tingginya nilai pinjaman kepada Bank Asing untuk bisa menekan dampak resesi yang lebih besar lagi.

Terhadap Perusahaan

Laba perusahaan didapatkan manakala masyarakat memiliki daya beli untuk membelanjakan barang dan jasa yang diproduksi oleh perusahaan tersebut.

Resesi bisa mengakibatkan biaya operasional meningkat dan jika perusahaan tidak memiliki pendapatan atau dana darurat untuk menutupinya, besar kemungkinan perusahaan harus memangkas jumlah tenaga kerja mereka atau bahkan berujung pada kebangkrutan.

Terhadap Para Pekerja

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, jika perusahaan tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi gejolak ekonomi, maka tidak menutup kemungkinan tindakan efisiensi pegawai harus dilakukan.

Apabila hal ini terjadi, maka resesi akan berdampak signifikan pada tingkat pengangguran dalam suatu negara. Semakin tinggi tingkat pengangguran, akan semakin lemah juga kemampuan belanja masyarakat yang berakibat pada peningkatan risiko terjadinya resesi.

Baca Juga: Kenali Apa itu Trading Forex? Lengkap!

Cara Pencegahan Resesi

Meski menakutkan, nyatanya ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk mencegah terjadinya resesi ekonomi, seperti:

1. Meningkat kemampuan Belanja Pemerintah

Cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya resesi adalah dengan meningkatkan pembelanjaan pemerintah. Cara ini dilakukan untuk menguatkan daya beli sehingga perputaran ekonomi akan bergerak dengan nilai positif.

Pemerintah bisa membelanjakan anggaran yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mendukung kemampuan belanja mereka.

2. Bantuan UMKM

Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan bantuan dana kepada UMKM agar lebih produktif. Tujuannya pun sama, agar roda perekonomian bergerak dengan nilai positif.

3. Menarik Kepercayaan Investor

Jika roda perekonomian bernilai positif, kemampuan belanja masyarakat dan pemerintah baik, maka investor akan lebih percaya diri untuk masuk dan menanamkan investasi.

Laporan keuangan yang baik dan cenderung menunjukkan potensi kenaikan akan menumbuhkan kepercayaan investor yang dapat mendorong laju perekenomian hingga terhindar dari ancaman resesi.

Salah satu persiapan menghadapi resesi yang dianjurkan oleh pakar dan pengamat ekonomi adalah Sobat Trader harus mulai memiliki kantung telur finansial lain yang dapat menjadi passive income dikala krisis melanda.

Sobat Trader bisa mulai mengalokasikan dana yang dimiliki dalam bentuk investasi dan trading yang dapat memberikan pemasukan di masa yang akan datang.

Akan tetapi, pastikan broker investasi yang Sobat Trader gunakan sudah teregulasi BAPPEBTI dan menawarkan transaksi yang aman transparan, seperti broker trading HSB Investasi yang tak hanya mengantongi izin resmi BAPPEBTI, tetapi juga meraih penghargaan Best Innovative Broker 2022 dari ICDX.

Jangan tunda lagi, jadilah bagian dari jutaan trader sukses bersama HSB Investasi! Download dan registrasikan akun tradingmu sekarang juga!***

Mungkin kamu suka

Leave a Comment

HSB Investasi

HSB Investasi merupakan perusahaan pialang fintech dengan fokus dan mengutamakan Iam menyediakan layanan jasa Perdagangan Foreign Exchange (Forex), Komoditas dan Indeks Saham (stock index) dibawah PT. Handal Semesta Berjangka. Diawasi oleh otoritas keuangan, terdaftar dan diawasi oleh Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi.

Contact Us

Hotline:

+62 21-501-22288