Trading & kelola akun MT di Aplikasi HSB Trading
store google
Sejarah Pasar Modal Indonesia dan Perkembangannya

Kesuksesan Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak terlepas dari perjalanan sejarah Pasar Modal Indonesia sejak pertama kali muncul pada masa penjajahan Belanda. Dalam artikel ini, HSB Investasi akan menyajikan ulasan mengenai perkembangan Pasar Modal Indonesia sejak awal hingga saat ini. Mari kita ikuti perjalanan sejarah ini hingga akhir!

Latar Belakang Berdirinya Pasar Modal Indonesia

Pasar Modal di Indonesia sudah ada sejak era pemerintah Hindia Belanda atau sebelum Indonesia merdeka. Namun, dengan lika-liku yang terjadi seperti Perang Dunia I, pemerintah Indonesia meresmikan kembali pasar modal pada tahun 1977.

Pada tahun 1990, Bursa Efek Jakarta bergabung dengan Bursa Efek Surabaya untuk membentuk Bursa Efek Jakarta dan Surabaya (JSX) dan merubah namanya menjadi Bursa Efek Indonesia atau Indonesian Stock Exchange (IDX) pada tahun 2007.

Ada beberapa faktor yang mendorong berdirinya Pasar Modal di Indonesia, di antaranya adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil, meningkatnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi, dan tuntutan pasar untuk transparansi dan good governance.

Selain itu, adanya kebijakan pemerintah untuk pembangunan negeri juga menjadi faktor penting dalam berdirinya Pasar Modal di Indonesia.

Tujuan utama dari berdirinya Pasar Modal di Indonesia adalah untuk menyediakan wadah bagi perusahaan untuk mengumpulkan dana dari masyarakat dan meningkatkan transparansi serta akuntabilitas perusahaan.

Pasar Modal juga memfasilitasi perdagangan efek dan memberikan alternatif bagi masyarakat untuk berinvestasi serta memainkan peran penting dalam mempromosikan pembangunan ekonomi dan memperkuat stabilitas keuangan Indonesia.

perkembangan pasar modal di Indonesia

Perkembangan Pasar Modal Indonesia

Setelah mengenal latar belakang sejarah Pasar Modal Indonesia, kini saatnya Sobat Trader mengetahui perkembangannya sejak masa awal pembentukan hingga Pasar Modal saat ini.

Masa Kolonial

Fakta menarik dari sejarah Pasar Modal indonesia adalah ternyata aktivitas jual-beli efek sudah ada sejak masa pemerintah kolonial atau VOC. Dalam buku berjudul “Effectengids” yang dirilis pada tahun 1939 oleh Vereeniging Voor Den Effectenhandel, jual-beli efek sudah berlangsung sejak tahun 1880.

Akan tetapi pada saat itu, jual-beli efek dilakukan tanpa ada Pasar Modal atau organisasi resmi yang menaunginya, sehingga catatan transaksi yang terjadi sangat terbatas. Kemudian, tahun 1878 berdiri perusahaan untuk perdagangan Komunitas dan Sekuritas, yaitu Dunlop & Koff sebagai tempat jual beli saham pertama di Indonesia yang kemudian dikenal sebagai PT Perdanas.

Tahun 1892, untuk pertama kalinya tercatat jual-beli efek dilakukan oleh perusahaan perkebunan yang bernama Cultuur Maatschappij Goalpara. Perusahaan ini memperdagangkan 400 saham dengan harga 500 gulden per lembar saham hingga pada tahun 1896, prospektus sahamnya mencapai 105 ribu gulden. Oleh karena itu, pada tahun 1912, Bursa Efek Belanda yang bernama Amsterdamse Effectenbeurs memutuskan untuk membuka cabang di Batavia.  

Cabang Bursa Efek ini digunakan untuk mengembangkan perkebunan di Indonesia secara masif pada saat itu, dengan menawarkan saham kepada orang-orang Eropa, termasuk penduduknya sendiri yang tinggal di Belanda.

Perang Dunia dan Resesi

Selang dua tahun dari meletusnya Perang Dunia I pada tahun 1914-1918, Pasar Modal di Batavia terpaksa berhenti beroperasi. Meski demikian, minat besar masyarakat akan investasi membuat penduduk kota lain membentuk dua Pasar Modal atau Bursa Efek lainnya, yaitu 11 Januari 1925 di Surabaya dan 1 Agustus 1925 di Semarang.

Sayangnya, resesi global pada tahun 1929 – 1939 dan meletusnya Perang Dunia II pada tahun 1939-1945, membuat operasional Bursa Efek di Indonesia berhenti total. Hingga baru tahun 1952, Bursa Efek Indonesia dibuka kembali oleh presiden Ir Soekarno.

Dalam perjalanannya, efek nasionalisasi perusahaan asing ditambah konflik Irian Barat membuat kondisi Pasar Modal Bursa Efek di Indonesia yang baru saja merdeka terpuruk hingga ditutup kedua kalinya pada tahun 1956 dan dibuka kembali pada masa Orde Baru.

Masa Orde Baru

Pada masa Pemerintahan Orde Baru (1965-1998), Perekonomian Indonesia yang mulai membaik membuat Presiden Soeharto membuka kembali sekaligus meresmikan Pasar Modal Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tahun 1977 sebagai Bursa Efek pertama di Indonesia.

PT Semen Cibinong merupakan Emiten pertama yang diperdagangkan secara go public. Namun, kebijakan pemerintah saat itu yang membatasi ruang gerak perusahaan membuat kondisi Pasar Modal terhambat selama 10 tahun berikutnya.

Baru pada tahun 1987, kebijakan pemerintah yang memperbolehkan investor asing untuk memiliki hak kepemilikan perusahaan hingga 49% membuat kondisi Pasar Modal di Indonesia berkembang pesat.

Perkembangan pesat tersebut mengakibatkan kedua Pasar Modal Burse Efek bergabung pada tahun 1990 dan membentuk Bursa Efek Jakarta dan Surabaya (JSX) untuk semakin memfasilitasi aktifitas Pasar Modal di Indonesia secara lebih luas.

Era Reformasi hingga Saat Ini

Setelah keruntuhan Orde Baru pada tahun 1998, kondisi Pasar Modal Indonesia sempat terhambat. Namun, Reformasi ekonomi dan deregulasi Pasar Modal membuka peluang bagi perusahaan untuk mengumpulkan dana melalui penjualan saham, serta memperluas akses bagi investor untuk berinvestasi, membuat pasar modal di Indonesia berkembang kembali.

Perkembangan yang pesat tersebut melandasi JSX merubah namanya menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2007. Lalu, Pemerintah Indonesia membentuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2011 sebagai pengganti Bapepam-LK.

OJK bertugas sebagai Badan Pengawas Pasar Modal yang mengatur dan mengawasi aktivitas Pasar Modal dan lembaga keuangan, serta menggantikan peran Bank Indonesia (BI) dalam pengawasan dan pengaturan bank, untuk melindungi konsumen industri jasa keuangan. Hingga tahun 2022, Perusahaan Emiten yang tercatat di BEI melebihi 700 perusahaan.

Kantor Bursa Efek Indonesia di Jakarta

 

Kontribusi Pasar Modal dalam Pertumbuhan Ekonomi

Pasar Modal di Indonesia memiliki beberapa kontribusi berarti dalam pertumbuhan perekonomian negara, seperti:

Sebagai Sarana Penyedia Dana

Pasar Modal memfasilitasi penerimaan dana dari investor melalui penjualan saham dan obligasi.  Perusahaan dan pemerintah dapat mengumpulkan dana dengan menjual saham dan obligasi kepada para investor di pasar modal.

Pasar Modal juga memungkinkan perusahaan dan pemerintah untuk mengumpulkan dana untuk investasi dan pembangunan tanpa harus meningkatkan pajak atau meminjam dana dari bank maupun sumber lain.

Tidak hanya itu, Pasar Modal juga berperan membantu pemerintah dalam menyediakan dana untuk pengembangan infrastruktur, seperti jalan, jembatan, dan bandara, yang akan membantu meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.

Alokasi Sumber Daya yang Efisien

Pasar Modal membantu mengarahkan dana ke proyek dan bisnis dengan prospek yang baik, serta menyediakan informasi yang relevan dan transparan kepada investor. Ini dapat membantu menentukan alokasi sumber daya yang efisien dan memfasilitasi pertumbuhan perusahaan serta proyek-proyek yang tepat guna untuk pembangunan negara.

Selain itu, Pasar Modal juga dapat memfasilitasi analisis dan evaluasi proyek bisnis, yang dapat membantu investor membuat keputusan informatif dan tepat dalam mengarahkan dana mereka. Ini juga membantu memastikan bahwa sumber daya yang tersedia diterapkan pada proyek dan bisnis dengan prospek terbaik.

Penggerak Roda Ekonomi

Dalam prakteknya, perusahaan mendapatkan dana untuk berkembang dan memperluas operasi mereka melalui Pasar Modal yang pada gilirannya akan membuka peluang dan menciptakan kesempatan baru bagi masyarakat untuk bekerja.

Pasar Modal juga membantu pemerintah dan swasta dalam menyediakan dana untuk proyek-proyek pembangunan seperti pembangunan infrastruktur yang membutuhkan tenaga kerja. Sehingga, Pasar Modal juga dapat dikatakan akan membantu secara tidak langsung membentuk lapangan kerja baru bagi masyarakat. 

Pertumbuhan tersebut tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan, tapi juga akan meningkatkan produktivitas dan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memperkuat perekonomian negara.

fungsi pasar modal di Indonesia

Fungsi Pasar Modal Indonesia

Fungsi Pasar Modal Indonesia sebagai berikut :

  1. Penyediaan dana: Pasar Modal membantu perusahaan atau proyek memperoleh dana melalui penjualan saham atau obligasi kepada investor.
  2. Diversifikasi portofolio: Pasar Modal memberikan pilihan bagi investor untuk diversifikasi portofolio investasi mereka.
  3. Pertumbuhan ekonomi: Pasar Modal membantu mempercepat pertumbuhan ekonomi dengan memfasilitasi alokasi dana ke proyek-proyek yang berpotensi mempercepat pertumbuhan.
  4. Transparansi dan informasi: Pasar Modal memastikan adanya transparansi dan informasi akurat dan terkini tentang perusahaan atau proyek yang menjual saham atau obligasi, sehingga membantu investor membuat keputusan investasi yang informatif.
  5. Likuiditas: Pasar Modal menyediakan mekanisme bagi investor untuk menjual saham atau obligasi mereka dengan mudah dan cepat.

Dengan demikian, Pasar Modal Indonesia memainkan peran penting dalam perekonomian negara dan memfasilitasi aliran dana antara berbagai pihak.

Pastikan kamu tetap mengupdate informasi terkini seputar aktivitas transaksi Pasar Modal sebagai bahan analisis fundamental yang bisa kamu gunakan untuk meraih peluang profit Trading Saham.

Tingkatkan peluang profit trading dengan memanfaatkan leverage HSB up to 1:200

Tidak perlu bingung mencari sumber informasi terkini terkait Pasar Modal Indonesia maupun dunia. Sobat Trader bisa merasakan manfaat fitur app push notification dari platform dan aplikasi HSB Investasi, Broker Forex paling inovatif 2022. Cukup dengan daftarkan akun trading-mu, dan rasakan petualangan seru trading era modern bersama HSB Investasi, Invest in Time!***

DISCLAIMER

Artikel ini ditujukan sebatas sebagai sumber informasi dan edukasi serta tidak ditujukan sebagai sumber utama pemberian saran. Perlu dipahami bahwa aktivitas finansial investasi dan trading memiliki tingkat risiko yang perlu dikelola dengan baik. Pastikan Sobat Trader telah memahami potensi risiko yang mungkin muncul agar dapat meminimalisir kerugian di masa yang akan datang.

DISCLAIMER
Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, ditujukan hanya sebagai sumber pembelajaran dan bukan sebagai saran dalam pengambilan keputusan. Perlu Anda pahami bahwa produk dengan leverage tinggi memiliki potensi risiko kerugian yang juga tinggi, sehingga perlu dikelola dengan baik melalui pemahaman dan kemampuan analisa yang tepat. HSB Investasi tidak bertanggung jawab atas kesalahan keputusan yang dibuat berdasarkan konten ini. Sesuai ketentuan yang berlaku, HSB hanya menyediakan 45 instrumen trading yang dapat Anda pelajari di website resmi kami.

Trading Bebas Risiko dengan Akun Demo HSB

Silahkan masukan nomor HP

Nomor Handphone harus dimulai dengan 8

Nomor HP tidak valid

Kode verifikasi dperlukan

Kode verifikasi salah

Silakan masukkan password

Kata sandi harus 8-30 digit, termasuk huruf kecil, kapital, dan angka

Minimal 8 karakter

Setidaknya 1 angka

Setidaknya 1 huruf besar

Setidaknya 1 huruf kecil

Satu juta download!
bonus tanpa deposit
Artikel Lainnya

Trading Bebas Risiko dengan Akun Demo HSB

Silahkan masukan nomor HP

Nomor Handphone harus dimulai dengan 8

Nomor HP tidak valid

Kode verifikasi dperlukan

Kode verifikasi salah

Silakan masukkan password

Kata sandi harus 8-30 digit, termasuk huruf kecil, kapital, dan angka

Minimal 8 karakter

Setidaknya 1 angka

Setidaknya 1 huruf besar

Setidaknya 1 huruf kecil

Satu juta download!
bonus tanpa deposit
Mulai Pengalaman Trading Terbaik