Home Pengetahuan Keuangan Mengenal Suku Bunga Acuan: Fungsi & Risikonya

Mengenal Suku Bunga Acuan: Fungsi & Risikonya

by Imelia Santoso
0 comment

Mungkin Sobat Trader sudah pernah mendengar rilis berita suku bunga acuan yang dikeluarkan Bank Sentral hingga analisa akan dampak yang mungkin terjadi dari rilis berita tersebut.

Akan tetapi, apakah Sobat Trader sudah memahami pengertian suku bunga acuan, fungsi, kebijakan moneter, dan risikonya? Jika belum, penjelasan lengkap di bawah ini bisa menjadi referensi bagimu.

Apa itu Suku Bunga Acuan?

Suku bunga acuan adalah tingkat bunga yang digunakan sebagai dasar untuk mengestimasi tingkat interest rate pada pembiayaan, perdagangan, dan instrumen keuangan lainnya.

Biasanya, nilai bunga acuan ditentukan oleh otoritas moneter seperti Bank Sentral atau oleh pemerintah. Nilai bunga bisa berubah tergantung pada kondisi ekonomi atau operasi moneter, tetapi perilaku pasar juga sangat mempengaruhi tingkat nilai bunga yang ditetapkan.

Apa Fungsi dari Suku Bunga Acuan?

Bank biasanya menggunakan patokan bunga acuan untuk menyesuaikan interest rate pinjaman yang diberikan. Tingkat bunga juga dapat menjadi alat untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar di masyarakat.

Dengan menaikkan atau menurunkan tingkat bunga acuan, bank dapat mengendalikan jumlah pinjaman yang diberikan. Nilai bunga juga dapat digunakan sebagai indikator ekonomi untuk mengukur kesehatan perekonomian suatu negara.

Kenaikan suku bunga acuan menandakan perekonomian negara tersebut sedang kuat dan jika nilai bunga turun, itu berarti perekonomian negara tersebut sedang lemah. Untuk memahami dengan lebih dalam apa saja fungsi interest rate, berikut penjelasannya:

1. Menjaga Daya Beli Masyarakat

Fungsi tingkat bunga yang ditetapkan oleh pemerintah ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat agar tingkat inflasi dapat dijaga. Ini bisa dilakukan dengan memastikan bahwa tingkat bunga tetap tinggi, namun tidak terlalu tinggi.

Dengan mengendalikan tingkat inflasi, nilai bunga acuan dari pemerintah dapat membantu masyarakat tetap memiliki daya beli dan konsumsi yang tinggi.

Bunga yang ditetapkan dapat membantu menstabilkan nilai mata uang, yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan tingkat bunga yang tepat, pemerintah dapat memastikan bahwa daya beli masyarakatnya akan tetap tinggi.

Tingkat bunga yang dipertimbangkan untuk menjaga daya beli masyarakat adalah 3,00%-3,50%. Ini berarti bahwa Bank Sentral akan mempertahankan penetapan nilai bunga di sekitar tingkat ini untuk menjaga laju inflasi tetap rendah dan memastikan bahwa nilai mata uang tetap stabil.

Kenaikan patokan nilai bunga dapat meningkatkan biaya pinjaman bagi masyarakat, yang akan berdampak pada menurunnya daya beli. Dengan menjaga patokan tingkat bunga di sekitar tingkat di atas, pemerintah dapat membantu masyarakat tetap memiliki daya beli yang tinggi.

Suku bunga acuan untuk mengendalikan inflasi

2. Mengendalikan Laju Inflasi

Fungsi suku bunga bunga acuan adalah sebagai alat kendali moneter yang diterapkan oleh Bank Sentral untuk membantu menjaga tingkat inflasi dengan mengendalikan jumlah uang yang beredar di pasar agar tidak terjadi resesi.

Jika jumlah uang beredar terlalu tinggi, Bank Sentral dapat mengambil kebijakan moneter berupa kenaikan nilai bunga acuan, yang akan menyebabkan biaya pinjaman menjadi lebih tinggi.

Ini berarti pengusaha harus membayar lebih banyak untuk mendapatkan pinjaman dan menyebabkan penurunan permintaan untuk barang serta jasa, hingga akhirnya dapat mencegah inflasi.

Setidaknya ada lima cara yang bisa dilakukan Bank Sentral dalam memanfaatkan patokan nilai bunga untuk mengendalikan inflasi, yaitu:

  1. Kenaikan suku bunga acuan akan meningkatkan biaya pinjaman, menyebabkan pengeluaran perusahaan dan masyarakat turun, dan mengurangi permintaan. Hal ini akan mengurangi tingkat permintaan dalam perekonomian, yang akan membantu menjaga inflasi tetap rendah.
  2. Pemerintah dapat juga mengurangi jumlah uang yang beredar di pasar dengan mengurangi jumlah uang yang dihemat di bank. Ini akan memperlambat laju aliran uang di pasar, yang berdampak pada tingkat inflasi.
  3. Pemerintah harus secara konsisten memastikan bahwa jumlah uang yang ada di pasar sesuai dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Jika kelebihan uang dikeluarkan, akan menyebabkan tingkat harga naik.
  4. Peraturan perbankan yang ketat harus diikuti oleh semua bank. Hal ini dapat membantu mencegah perbankan yang berlebihan, yang akan mendorong inflasi.
  5. Penggalangan dana yang berlebihan dari suatu negara harus dikurangi dengan menaikkan pajak dan mengurangi pengeluaran pemerintah. Hal ini akan membantu menjaga penawaran dalam agregat di pasar stabil dan mencegah kenaikan tingkat inflasi.

3. Mencegah Penipuan dalam Sistem Perbankan

Fungsi yang ketiga adalah memberikan pengawasan pada sistem perbankan untuk mencegah risiko penipuan berupa tindakan spekulasi atau manipulasi harga yang tidak bermoral dalam transaksi yang dilakukan oleh para banker.

Dalam proses ini, patokan nilai bunga yang telah ditetapkan bersifat mengikat untuk transaksi yang terlibat dalam sistem perbankan tersebut.

Tingkat patokan bunga ini juga dapat digunakan oleh para banker untuk mengukur seberapa besar risiko yang akan mereka hadapi dalam melakukan transaksi dengan bank lain, klien mereka, dan juga berbagai institusi keuangan lainnya.

Dengan memastikan bahwa patokan nilai bunga memadai dan selaras dengan risiko yang ada, para banker tidak akan tersudut untuk melakukan spekulasi atau manipulasi nilai untuk meningkatkan laba.

Kebijakan Suku Bunga Acuan BI

Suku bunga acuan BI adalah suku bunga dasar yang dipakai Bank Indonesia sebagai acuan dalam menetapkan tingkat bunga pada instrumen-instrumen moneter.

Salah satu kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia adalah dengan diterbitkannya Kebijakan Suku Bunga Bank Indonesia dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Suku bunga acuan BI (BI Rate) adalah 7,75%.
  2. Apabila terjadi perubahan dalam kenaikan suku bunga acuan BI, maka perubahan ini akan berlaku bagi kredit, tabungan, dan deposito yang ditawarkan oleh Bank Indonesia.
  3. Bank Indonesia akan mengumumkan kebijakan menaikkan suku bunga acuan BI di media massa setiap bulan.
  4. Suku Bunga di pasar untuk pinjaman yang diberikan kepada bank-bank dan institusi keuangan lainnya sebagai bagian dari pelonggaran dan pembiayaan jangka pendek akan disinkronkan dengan suku bunga acuan BI Rate, sedangkan untuk mendukung penempatan dana jangka tengah akan ditentukan dengan cara lain oleh Bank Indonesia.
  5. Bank Indonesia akan menerapkan kebijakan yang berorientasi pasar dan independen dalam menentukan nilai bunga.

Kebijakan Suku Bunga Acuan BI

BI 7 Day Reverse Repo Rate

BI 7 Day Reverse Repo Rate adalah tingkat repo yang ditetapkan oleh Bank Indonesia di mana bank-bank umum diharuskan untuk membeli obligasi dengan jangka waktu 7 hari.

Ini adalah alat yang digunakan oleh Bank Indonesia untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar di sistem pembayaran. Tingkat BI 7 Day Reverse Repo Rate biasanya digunakan dalam tingkat referensi Suku Bunga Rupiah (SBR).

BI 7 Day Reverse Repo Rate juga merupakan mekanisme moneter yang digunakan oleh Bank Indonesia (BI) untuk mengendalikan tingkat bunga acuan dan jumlah uang dalam sirkulasi.

Bank Indonesia membeli obligasi pemerintah Indonesia dari bank-bank komersial dengan imbalan 7 hari reverse repo rate. Bank-bank komersial yang meminjam dana dari BI harus membayar tingkat bunga yang ditentukan.

Imbalan BI 7 Day Reverse ini akan digunakan untuk menstabilkan tingkat bunga pasar uang dan untuk mengatur jumlah uang dalam sirkulasi.

Dengan mengatur tingkat nilai bunga acuan, Bank Indonesia bisa mempengaruhi struktur suku bunga yang ditawarkan oleh bank-bank komersial dan menstimulasi atau menekan pertumbuhan ekonomi. Mekanisme Bi 7 Day Reverse Repo Rate berjalan sebagai berikut:

  • BI selaku Bank Sentral akan mengumumkan nilai 7 Day Reverse Repo Rate yang merupakan tingkat bunga yang harus dibayarkan oleh bank-bank komersial.
  • Bank-bank komersial yang bersedia memberikan dana ke BI harus mengirimkan dana yang dipertaruhkan ke rekening ke BI, dan pada saat yang sama, BI membeli obligasi pemerintah Indonesia dari bank-bank komersial tersebut.
  • Setelah 7 hari, BI harus mengembalikan ketentuan dana ke bank-bank komersial pada tingkat bunga yang telah ditentukan.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Bulan Oktober tahun 2022 memutuskan untuk menaikkan tingkat BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 50bps ke angka 4,75%.

Sertifikat Bank Indonesia

Salah satu kebijakan moneter yang diambil Bank Indonesia adalah dengan mengeluarkan suku bunga acuan BI terhadap Sertifikat Bak Indonesia (SBI) yang merupakan instrumen keuangan dari Bank Indonesia. Nilai patokan bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah 4,50 % (empat koma lima persen) per tahun.

SBI bertujuan untuk menciptakan suatu keseimbangan antara kebijakan fiskal dan moneter B serta sebagai alat pencadangan dan alat penyedia likuiditas. Penerbitan SBI dilakukan untuk membantu Bank Indonesia dalam mencapai tujuan utamanya untuk stabilisasi nilai tukar rupiah.

Risiko Menaikkan Suku Bunga Acuan

Pemerintah dapat menaikkan nilai bunga acuan apabila perekonomian negara menjadi lebih kuat dan inflasi mulai meningkat. Ini bertujuan untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang terlalu tinggi dan membantu mencegah laju pertumbuhan kredit menjadi berlebihan.

Menaikkan suku bunga juga dapat berdampak pada meningkatnya cadangan devisa dan kondisi perekonomian yang semakin membaik.

Akan tetapi, ada beberapa risiko yang bisa saja terjadi jika pemerintah salah memperhitungkan waktu yang tepat untuk menaikkan suku bunga, yaitu:

1. Pengaruh Negatif pada Ekspor

Menaikkan suku bunga acuan pada saat yang tidak tepat akan sangat berdampak pada industri ekspor. Harga ekspor akan menjadi lebih mahal, jangka waktu lebih panjang dan biaya bunga yang ditambahkan akan menghalangi daya saing ekspor.

2. Pengaruh Negatif pada Perbankan

Bank akan menyesuaikan tingkat suku bunga mereka sesuai dengan interest rate, yang artinya bahwa menaikkan suku bunga acuan dapat menyebabkan kenaikan biaya pinjaman bagi nasabah.

Risiko menaikkan suku bunga acuan

3. Pengaruh Negatif terhadap Investasi

Menaikkan suku bunga acuan dapat membuat investor ragu-ragu untuk melakukan investasi karena akan mencari keuntungan di instrumen investasi yang memberi return yang lebih tinggi dari bunga yang ditawarkan oleh bank.

4. Pengaruh Negatif terhadap Inflasi

Kenaikan suku bunga acuan dapat memicu lonjakan inflasi, yang dapat membuat daya beli masyarakat turun.

5. Pengaruh Negatif terhadap Nilai Tukar Mata Uang

Kenaikan suku bunga acuan dapat mempengaruhi nilai tukar mata uang. Hal ini dikarenakan tingkat suku bunga yang lebih tinggi akan membuat mata uang lebih mahal dan ekspor lebih sulit untuk dipenuhi.

Itu tadi penjelasan singkat tentang nilai patokan bunga di pasar uang yang ditetapkan oleh pemerintah. Mengetahui tingkat bunga petokan akan sangat membantu Sobat Trader dalam menganalisa arah tren pergerakan harga dan sentimen pasar yang akan berdampak pada nilai instrumen yang akan diinvestasikan atau diperdagangkan.

Agar informasi terupdate terkait penetapan patokan bunga dari pemerintah tidak terlewat, kamu bisa memanfaatkan fitur app-push notification yang disediakan oleh aplikasi trading HSB Investasi.

Tak hanya menawarkan fitur informasi terupdate, Sobat Trader juga akan mendapatkan beragam manfaat trading dengan lebih dari 45 jenis instrumen yang bisa diperdagangkan di pasar global.

Jadi, tunggu apalagi? segera download aplikasinya dan registrasikan akun tradingmu di HSB Investasi, Invest in Time!***

 


Referensi:

Bank Indonesia.  BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR). Diakses pada 20 Desember 2022. Dari: https://www.bi.go.id/id/fungsi-utama/moneter/bi-7day-rr/default.aspx

Banner Trading

Mungkin kamu suka

Leave a Comment

HSB Investasi

HSB Investasi merupakan perusahaan pialang fintech dengan fokus dan mengutamakan Iam menyediakan layanan jasa Perdagangan Foreign Exchange (Forex), Komoditas dan Indeks Saham (stock index) dibawah PT. Handal Semesta Berjangka. Diawasi oleh otoritas keuangan, terdaftar dan diawasi oleh Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi.

Contact Us

Hotline:

+62 21-501-22288