Home Tips Investasi Keuangan Umum Mengerikan! Ini dia Penyebab Resesi Ekonomi dan Pencegahannya

Mengerikan! Ini dia Penyebab Resesi Ekonomi dan Pencegahannya

by HSB
0 comment

Sobat Trader, beberapa minggu lalu pasti kamu sering mendengar kata resesi baik di media sosial, berita, maupun diskusi dengan temanmu. Tapi, sebenarnya apa sih resesi ekonomi itu?

Dari banyak penjelasan di berbagai media, resesi ekonomi dapat diartikan sebagai suatu kondisi defisitnya pertumbuhan ekonomi dua kuartal secara berturut-turut di suatu negara atau wilayah yang dapat dilihat dari nilai negatif Produk Domestik Bruto (PDB)-nya.

Nah, Sobat Trader pasti sudah paham dong sekarang dampak dari pandemi Covid-19 telah mengubah kebiasaan masyarakat sehingga aktivitas sosial kini dibatasi (social distancing). Imbasnya nih, kegiatan ekonomi indonesia mulai terganggu dan berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat serta perlambatan ekonomi.

Baca Juga: Resesi Adalah: Penyebab, Dampak, dan Tips Menghadapinya

Apa itu Resesi Ekonomi?

Resesi ekonomi adalah penurunan aktivitas ekonomi dalam waktu stagnan dan lama, mulai dari berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Hal ini dapat memicu penurunan pendapatan perusahaan, meningkatnya pengangguran, hingga kebangkrutan ekonomi yang terjadi pada suatu negara.

Resesi terjadi ketika ekonomi mulai tumbuh negatif pada dua kuartal secara beruntun. Tahun 2020 lalu, dunia mengalami resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19 sehingga menyebabkan lapangan kerja berkurang dan banyak pengurangan pegawai. Tanpa adanya kegiatan dan mobilitas masyarakat menyebabkan roda ekonomi pun bergerak lambat.

Apa Penyebab Terjadinya Resesi Ekonomi?

Berikut sudah kami rangkum apa yang menjadi penyebab terjadinya resesi ekonomi: 

1. Inflasi

Inflasi adalah proses meningkatnya harga secara terus-menerus. Kondisi ini sebenarnya bukan hal yang buruk, namun inflasi yang berlebihan masuk ke dalam kategori berbahaya sebab akan menyebabkan resesi.

Bank Central AS sendiri mengendalikan inflasi dengan menaikkan suku bunga, kemudian menekan aktivitas ekonomi. Meskipun menaikkan suku bunga juga mengakibatkan resesi ekonomi.

2. Deflasi

Meskipun inflasi tidak terkendali dapat menyebabkan resesi, deflasi juga dapat memberikan dampak yang lebih buruk. Deflasi merupakan kondisi dimana harga turun dari waktu ke waktu yang menyebabkan upah menyusut, kemudian menekan harga.

Deflasi sendiri lebih berdampak kepada para pemilik usaha (penyedia barang dan jasa). Ketika individu dan unit bisnis berhenti memproduksi barang dan jasa, hal ini akan berdampak pada menyusutnya aktivitas perekonomian.

3.  Meletusnya Gelembung Aset

Gelembung aset terjadi ketika peningkatan harga aset secara ekstrem dengan harapan harga mengalami kenaikan berdasarkan waktu yang akan datang dan tanpa adanya dukungan fundamental ekonomi kuat.

Sebagai contoh, gelembung aset akan tampak saat harga perumahan, saham, atau emas melonjak tinggi. Kemudian diikuti oleh situasi dimana investor terus menawar harga di luar nilai nyata dan berkelanjutan.Lalu, mereka akan berbondong-bondong membeli aset yang harganya menjulang tinggi dan diperkirakan akan naik demi mengamankan aset dalam jangka panjang.

Baca Juga: Apa itu Volatilitas? Jenis dan Faktornya

4. Gejolak Ekonomi

Gejolakan ekonomi yang mendadak dapat memicu resesi serta masalah ekonomi lainnya akan bermunculan. Mulai dari tumpukan hutang individu maupun perusahaan dengan biaya pelunasan yang ikut meninggi hingga sampai di titik tidak dapat dilunasi lagi.

5. Kemajuan Teknologi 

Berkembangnya teknologi menjadi salah satu faktor terjadinya resesi. Sebagai contoh pada abad ke-19, adanya gelombang peningkatan teknologi hemat tenaga kerja yang dinamakan revolusi Industri sehingga membuat seluruh profesi menjadi usang dan memicu terjadinya resesi ekonomi.

6. Ketidakstabilan Produksi dan Konsumsi

Ketidakstabilan konsumsi dan produksi menjadi dasar penyebab resesi ekonomi. Di saat produksi dan konsumsi tidak seimbang, maka terjadilah masalah siklus ekonomi  yang menyebabkan tingginya produksi tidak sebanding dengan konsumsi sehingga berakibat pada penumpukan stok persediaan barang.

Akan tetapi, tingginya kebutuhan dalam negeri akan mendorong terjadinya aktivitas impor. Hal ini akan berakibat pada penurunan laba perusahaan lokal yang berpengaruh pada lemahnya pasar modal.

7. Lambatnya Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi yang digunakan untuk menentukan baik tidaknya kondisi ekonomi dari suatu negara. Jika, pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan maka negara tersebut masih dalam kondisi ekonomi yang kuat begitu pula sebaliknya. Jika produk domestik bruto mengalami penurunan maka pertumbuhan ekonomi negara yang bersangkutan mengalami resesi.

8. Harga Komoditas Tinggi

Harga komoditas yang melonjak tinggi sehingga tidak dapat dijangkau oleh semua kalangan masyarakat akan berdampak pada terpuruknya kondisi ekonomi jika tidak diikuti dengan daya beli yang tinggi.

Tidak hanya inflasi yang berpengaruh kepada resesi ekonomi. Harga komoditas yang melonjak  drastis akan memengaruhi tingkat pendapatan dan laba perusahaan juga ikut menurun. Akibatnya, biaya produksi tidak dapat ter-cover dengan baik sehingga menyebabkan volume produksi yang kian merendah.

9. Tingkat Pengangguran Tinggi

Tenaga kerja menjadi salah satu faktor yang berperan penting dalam menggerakan roda perekonomian. Jika suatu negara tidak mampu menciptakan lapangan kerja yang berkualitas bagi para tenaga kerja, maka tingkat pengangguran semakin meningkat dan tingginya tingkat kriminal guna memenuhi kebutuhan hidup.

Baca Juga: Pentingnya Menerapkan Money Management Dalam Investasi! Berikut Alasannya

Dampak Resesi Ekonomi

resesi ekonomi

Resesi ekonomi jelas bukanlah kondisi yang menguntungkan bagi perekonomian negara di dunia. Saat resesi ekonomi terjadi semua jenis bisnis baik yang berskala besar maupun berskala kecil akan terkena dampaknya.

Hal ini kemudian bertambah parah dengan kondisi kredit yang semakin ketat dimana penurunan permintaan akan menciptakan kekhawatiran, ketidakpastian, dan ketakutan secara umum. Dampak resesi ekonomi berpengaruh terhadap pemerintah, perusahaan dan kehidupan pekerja, berikut penjelasannya:

1. Pemerintahan

Dampak yang paling terasa dari resesi ekonomi adalah jumlah pengangguran yang kian meningkat. Pemerintah kemudian dituntut untuk segera menemukan solusi mengakhiri resesi dengan terbukanya kembali lapangan kerja guna menyerap tenaga kerja.

Selain itu, hutang pemerintah juga akan melonjak tinggi sebab pemerintah di setiap negara membutuhkan dana yang cukup untuk membiayai berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan pembangunan negara.

2. Perusahaan

Bisnis atau usaha mungkin mengalami kebangkrutan akibat terjadinya resesi ekonomi. Hal ini dipicu oleh berbagai faktor yaitu tergerusnya sumber daya riil, krisis kredit dan jatuhnya harga aset berbasis hutang.

Ketika bisnis gagal, perusahaan mengalami penurunan pendapatan secara drastis sehingga saat pendapatan menurun dapat memicu efek domino terhadap kehidupan ekonomi pekerjanya. Sedangkan, bagi pekerja yang terkena PHK akan kehilangan seluruh pendapatannya dan sulit untuk memenuhi kebutuhannya.

Pendapatan yang menurun akan memengaruhi turunnya daya beli masyarakat sehingga potensi perusahaan untuk meningkatkan penghasilan semakin kecil. Kondisi inilah yang akan mengancam kelancaran arus kas perusahaan.

3. Pekerja

Resesi ekonomi memberikan dampak pada para pekerja yaitu dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadikannya pengangguran dan kehilangan pendapatan utama. Masalah pengangguran sendiri tidak hanya menimbulkan dampak pada perekonomian, tetapi juga ranah sosial.

Tingkat pengangguran yang tinggi menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya ketidakstabilan sosial mengarah pada vandalisme dan kerusuhan di masyarakat bahkan dapat mengancam tatanan sosial kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga: Pentingnya Mengelola Finansial saat Terjadinya Resesi Indonesia

Langkah Pencegahan Resesi

Indonesia tengah berjuang agar tidak masuk ke jurang resesi ekonomi sebab beberapa negara lainnya telah mulai memasuki gelombang resesi seperti pada Singapura dan Korea Selatan. Berikut ini langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam mencegah terjadinya resesi ekonomi adalah:

1. Belanja Besar-Besaran

Pemerintah berencana melakukan belanja besar-besaran untuk mengantisipasi ancaman resesi ekonomi sehingga permintaan dalam negeri meningkat dan dunia usaha tergerak untuk berinvestasi. Dengan cara ini, maka kontraksi ekonomi akibat resesi dapat diredam.

Belanja pemerintah menjadi salah satu daya ungkit yang digunakan untuk memulihkan perekonomian di saat resesi melanda. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia sendiri tercatat berkontribusi kurang lebih 14,7% pada PDB negara.

2. Bantuan UMKM

UMKM menjadi salah satu sektor dengan kondisi paling berat akibat resesi. Pemerintah menyiapkan berbagai program untuk mengungkit sektor ini agar kembali bangkit setelah mengeluarkan kebijakan restrukturisasi dan subsidi bunga kredit bagi para UMKM.

Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi menyiapkan dua program lain, yaitu bantuan UMKM produktif dan kredit berbunga rendah. Program bantuan ini ditunjukkan dalam bentuk grant yang akan dipergunakan untuk kehidupan sehari-hari dan memulai usahanya kembali.

3. Menarik Kepercayaan Investor

Upaya yang dilakukan mencegah resesi ekonomi dengan membuat kebijakan yang efektif dan diharapkan dapat menarik para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia yang nantinya dapat tercipta perputaran ekonomi yang lebih baik lagi.

Baca Juga: 5 Tips Memilih Reksa Dana yang Tepat dengan Profil Anda

Bagaimana Cara Menghadapi Resesi Ekonomi?

resesi ekonomi

Melejitnya kata resesi di berbagai media online membuat resah dan panik mulai menghantui masyarakat Indonesia. Terdapat banyak konten yang beredar tentang betapa menakutkannya situasi yang akan terjadi bila resesi ekonomi datang.

Meskipun resesi merupakan kata yang memiliki konotasi negatif, Sobat Trader tidak perlu merasa panik dan cemas. Berikut ini beberapa cara yang bisa kamu lakukan dalam menghadapi resesi ekonomi:

1. Berhemat

Sobat Trader usahakan kebutuhan pokok sudah terpenuhi dengan baik. Hal ini bertujuan agar dana yang tersisa dapat digunakan untuk hal yang lebih penting seperti melunasi hutang, menabung atau melakukan investasi.

2. Siapkan Dana Darurat

Dana darurat perlu Sobat Trader siapkan semenjak 3-6 bulan bekerja dari jumlah pengeluaran keseharianmu. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi hal buruk terjadi saat masa resesi ekonomi tiba.

3. Berinvestasi dan Menabung

Hal ini sama dengan berhemat, melakukan investasi dan menabung dapat memperkuat fondasi keuangan Sobat Trader agar lebih stabil saat terjadinya resesi ekonomi. Hal ini dapat kamu lakukan dengan investasi secara online sehingga membuat transaksi jauh lebih mudah.

4. Mencari Pendapatan Tambahan

Berhemat memang dapat membantu kamu menjaga kondisi keuangan yang tetap stabil dan sehat. Namun, sebaiknya jika Sobat Trader memiliki passive income agar dana yang didapatkan bisa mencukupi kebutuhan di kala resesi mendatang.

Apakah Sobat Trader sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi resesi ekonomi? Jika belum, kamu bisa mengalokasikan danamu dengan mulai investasi online di HSB Investasi sebagai salah satu antisipasi terjadinya resesi ekonomi.

Selain itu, pastikan broker yang Sobat Trader gunakan sudah memiliki izin resmi dan teregulasi BAPPEBTI agar transaksi yang dilakukan aman dan mudah. Mengalokasikan dana pada broker HSB Investasi sangat terjamin keamanannya karena sudah memiliki izin resmi dari BAPPEBTI.

Investasikan danamu dan jadilah bagian dari orang yang siap akan resesi ekonomi mendatang bersama HSB Investasi! Download dan registrasikan akun tradingmu sekarang juga!***

Mungkin kamu suka

Leave a Comment

HSB Investasi

HSB Investasi merupakan perusahaan pialang fintech dengan fokus dan mengutamakan Iam menyediakan layanan jasa Perdagangan Foreign Exchange (Forex), Komoditas dan Indeks Saham (stock index) dibawah PT. Handal Semesta Berjangka. Diawasi oleh otoritas keuangan, terdaftar dan diawasi oleh Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi.

Contact Us

Hotline:

+62 21-501-22288