Home Analisa Teknikal Forex Cara Menentukan Open Posisi Trading dengan Benar

Cara Menentukan Open Posisi Trading dengan Benar

by HSB
0 comment

Kamu perlu menentukan kapan harus membuka posisi dan kapan harus menutupnya ketika sedang melakukan trading. Penentuan tersebut tidak dilakukan sembarangan melainkan dengan melihat grafik dan hasil analisis yang telah dilakukan. 

Pada kesempatan kali ini HSB akan mengajak kamu memahami cara menentukan open posisi trading yang tepat untuk memaksimalkan keuntungan. Tetapi sebelum belajar cara menentukan open posisi dengan berbagai cara, kamu perlu tahu apa itu open posisi yang sebenarnya. 

Kamu perlu tahu bahwa open posisi menjadi langkah krusial pertama yang akan menentukan apakah kamu akan mendapatkan keuntungan atau tidak. Kalau begitu tidak perlu berpanjang lebar lagi, mari simak informasi selengkapnya di bawah ini! 

Memahami Apa Itu Open Posisi dalam Trading

Memahami Apa Itu Open Posisi dalam Trading

Open posisi adalah tindakan membeli suatu instrumen keuangan untuk nantinya dijual kembali demi mendapatkan keuntungan. Seharusnya kamu sudah tidak asing lagi dengan open posisi karena hal ini akan selalu dilakukan setiap kali melakukan trading

Open posisi sendiri juga punya banyak sebutan berbeda. Ada yang menyebutnya open order, masuk, atau buy. Namun semua itu mengacu pada satu tindakan yang sama yaitu membeli instrumen keuangan untuk memulai trading. 

8 Cara Menentukan Open Posisi Trading dengan Benar

Cara Menentukan Open Posisi Trading dengan Benar

Sebelumnya sudah sempat disebutkan bahwa menentukan open posisi tidak bisa dilakukan seenaknya saja. Perlu ada analisis serta sinyal yang menunjukkan bahwa terdapat peluang keuntungan. 

Salah satu cara analisis untuk menemukan sinyal tersebut ialah dengan menggunakan indikator. Ada sangat banyak indikator yang bisa digunakan, beberapa di antaranya akan dijelaskan di bawah ini. 

1. Moving Average Convergence Divergence (MACD)

Moving average convergence divergence merupakan indikator yang berfungsi untuk menunjukkan sinyal perubahan momentum yaitu tren harga melalui perbandingan 2 moving average. 

Jadi ketika grafik candlestick mendekati area garis support atau garis resistance maka trader bisa langsung melakukan tindakan. MACD ini bekerja dengan cara menghitung Exponential Moving Average (EMA) dalam waktu 12 hari dan 26 hari. Rumusnya kira-kira akan seperti berikut ini: 

MACD = EMA 12 hari – EMA 26 hari

Hasil perhitungan tersebut kemudian akan digunakan untuk dibandingkan dengan EMA 9 hari demi menemukan garis sinyal. Garis inilah yang sebenarnya perlu dilihat oleh trader untuk menentukan apakah akan menjual atau membeli. 

2. Bollinger Bands (BB)

Indikator ini satu ini sering digunakan untuk melihat overbought dan oversold. Tidak berhenti di sana, bollinger bands juga sering digunakan oleh para trader jangka panjang karena mampu memprediksi pergerakan harga untuk periode yang panjang. 

Namun tentunya panjang yang dimaksudkan bukan dalam kurun waktu tahunan layaknya investasi, melainkan bulan atau minggu. 

Ketika grafik bollinger bands terus mengarah ke luar dari parameter atas maka instrumen keuangan tersebut sedang dalam keadaan overbought. Sebaliknya, saat bergerak keluar dari parameter bawah maka keadaan tersebut adalah oversold

Baca juga: Kenali Tujuan Manajemen Risiko Saat Trading

3. Moving Average

Jika sebelumnya sudah dijelaskan soal indikator MACD maka yang satu ini hanyalah moving average. Sama-sama bisa menentukan kapan harus open posisi. Namun indikator satu ini akan terasa lebih sederhana. 

Saat kamu menggunakannya maka indikator MA akan menghubungkan titik harga dari instrumen keuangan untuk waktu yang telah ditentukan. Nantinya jumlah titik tersebut akan dibagi untuk menunjukkan garis tren harga. Biasanya moving average lebih banyak digunakan ketika trader ingin melihat sejarah pasar dari level support dan resistance. 

4. Average Directional Index (ADX)

Average directional index adalah indikator yang bisa menunjukkan pergerakan tren harga. Apakah harga akan naik atau turun. ADX juga bisa menunjukkan kemungkinan tren akan berlanjut atau tidak. 

Indikator ini menggambrkannya dengan skala 0-100. Ketika angka menunjukkan 25 ke atas maka tren dikatakan menguat. Sebaliknya, ketika berada di bawah angka 25 maka tren akan menurun. 

5. Relative Strength Index (RSI)

Relative strength index termasuk yang paling sering digunakan ketika menganalisis trading. RSI berguna untuk mengukur besaran volatilitas harga dari instrumen keuangan yang dipilih. Jadi trader bisa mengetahui kapan instrumen tersebut overbought atau oversold. 

Periode waktu penggunaan RSI bekerja efektif jika dipasang dalam periode waktu 14 hari untuk grafik harian dan 14 jam untuk grafik jam. 

Baca juga: Memahami Apa Itu Sideways Forex dan Contohnya

6. Exponential Moving Average (EMA)

Ada lagi yang serupa dengan MA dan MACD tetapi tidak sama yaitu EMA. Indikator ini digunakan untuk memastikan keakuratan pergerakan harga pasar. Kamu bisa menggunakannya sesuai kebutuhan berdasarkan jangka waktu trading

Ketika periode waktu trading panjang maka gunakan EMA 50 dan 200 hari. Namun saat periode trading pendek maka kamu bisa menggunakan EMA 12 dan 26 hari.  

7. Stochastic

Stochastic adalah indikator yang memperlihatkan oversold dan overbought dengan menggunakan garis atas bawah layaknya garis support dan resistance. Ketika pergerakan grafik berada di atas angka 80 maka instrumen keuangan tersebut sedang overbought

Sebaliknya saat pergerakan mencapai atau melewati angka 20 ke bawah maka keadaan pasar sedang oversold. 

8. Fibonacci Retracement

Fibonacci retracement merupakan indikator yang bisa membantu trader memahami pergerakan harga apakah akan terus berlanjut atau berbalik arah. Selain itu fibonacci juga bisa digunakan untuk menentukan level support dan resistance, stop loss, serta memasang target untuk mengambil keuntungan maksimal. 

Untuk mengetahuinya kamu perlu paham dahulu apa itu swing high dan swing low. Keduanya merupakan pola yang terbentuk dalam grafik candlestick. Jadi sebelum bisa menggunakan semua indikator dan analisis lainnya, kamu harus sudah mengerti cara membaca grafik candlestick beserta pola-pola yang sering terbentuk. 

Baca juga: Strategi Cara Menggunakan Moving Average

Menentukan posisi open bagi para pemula memang tidak pernah jadi perkara mudah. Tetapi dengan banyaknya latihan serta pembelajaran teori maka kamu bisa menjadi seorang trader yang andal. 

Semoga cara-cara menentukan open posisi trading di atas membantu kamu lebih mengerti bahwa ada begitu banyak indikator yang bisa digunakan untuk menentukan kapan harus masuk maupun keluar. 

Jika kamu membutuhkan materi belajar untuk pemula lainnya maka langsung saja akses fasilitas edukasi dari HSB. Kelas online, artikel, seminar, hingga akun demo bisa kamu manfaatkan untuk mengasah skill dan pemahaman secara mendalam. 

Setelah kemampuan dan wawasan cukup maka kamu bisa langsung mencoba trading di aplikasi HSB. Download aplikasinya dan registrasikan akun trading sekarang untuk merasakan pengalaman trading yang berbeda namun tetap aman dan menyenangkan!*** 

Mungkin kamu suka

Leave a Comment

HSB Investasi

HSB Investasi merupakan perusahaan pialang fintech dengan fokus dan mengutamakan Iam menyediakan layanan jasa Perdagangan Foreign Exchange (Forex), Komoditas dan Indeks Saham (stock index) dibawah PT. Handal Semesta Berjangka. Diawasi oleh otoritas keuangan, terdaftar dan diawasi oleh Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi.

Contact Us

Hotline:

+62 21-501-22288