Rangkuman Berita Penting: Harga Emas & Minyak Menguat di Tengah Gejolak Pasar

the fed chairman Jerome Powell

Emas Sentuh Level Tertinggi Lima Minggu di Tengah Melemahnya Dolar dan Isu Fed

Harga emas hari ini ditutup naik sebesar 0,58%, mencapai $3.417,04 per troy ons, level tertinggi dalam lima minggu. Penguatan ini didorong oleh pelemahan dolar AS dan meningkatnya permintaan aset safe-haven. Kekhawatiran pasar terhadap independensi Federal Reserve, menyusul isu politik yang muncul, memicu spekulasi bahwa The Fed mungkin akan memangkas suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan, dengan banyak investor kini memproyeksikan pemotongan pada bulan September.

​Investor saat ini berfokus pada rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah inflasi. Di saat yang sama, gugatan yang diajukan oleh Gubernur The Fed Lisa Cook terhadap Donald Trump semakin menambah sorotan pada isu independensi bank sentral. Semua faktor ini berkontribusi pada sentimen bullish di pasar emas.

​Harga Minyak Menguat Akibat Gejolak Rusia-Ukraina

Harga minyak dunia hari ini naik sebesar 0,68% pada perdagangan sebelumnya, mencapai $64,287 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan antara Rusia dan Ukraina. Pernyataan Gedung Putih tentang kekecewaan terhadap serangan Rusia yang memakan korban jiwa, serta serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak Rusia, memicu kekhawatiran pasar tentang potensi gangguan pasokan.

​Namun, beberapa faktor lain diperkirakan dapat membatasi kenaikan harga. Pasar juga mencermati tekanan AS terhadap India terkait pembelian minyak Rusia dan perkiraan peningkatan suplai dari rencana OPEC+. Selain itu, pemulihan pasokan melalui pipa Druzhba juga dapat menambah pasokan ke pasar global. Faktor-faktor yang saling berlawanan ini menciptakan dinamika yang kompleks di pasar minyak global.

Dolar AS Melemah, Investor Pertaruhkan Pemotongan Suku Bunga The Fed

Melemahnya Dolar AS baru-baru ini terjadi karena para investor semakin yakin bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Pergeseran sentimen ini mendorong Dolar AS jatuh 2% terhadap mata uang utama lainnya, menandai kerugian signifikan dalam sebulan. Para pelaku pasar memantau sinyal dari The Fed, dengan ekspektasi kuat bahwa bank sentral akan mengambil tindakan untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Antisipasi ini tidak hanya memengaruhi nilai Dolar, tetapi juga memicu gelombang pergerakan di pasar keuangan global, di mana para trader menyesuaikan posisi mereka sebagai respons terhadap potensi perubahan kebijakan The Fed yang akan datang.

Meskipun Dolar AS melemah, pasar saham global menunjukkan stabilitas. Para investor menunggu rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat untuk mendapatkan petunjuk yang lebih jelas mengenai langkah The Fed selanjutnya. Dengan para pelaku pasar yang memperkirakan lebih dari 85% kemungkinan The Fed akan memangkas suku bunga, data-data ini sangat penting untuk mengonfirmasi atau mengubah pandangan pasar saat ini. Laporan ekonomi yang akan dirilis diharapkan dapat memberikan kejelasan yang sangat dibutuhkan, yang berpotensi memicu volatilitas lebih lanjut di pasar valuta asing dan ekuitas.

Inflasi Inti Tokyo Melambat Namun Tetap di Atas Target BOJ

Inflasi inti di ibu kota Jepang, Tokyo, menunjukkan perlambatan, namun tetap berada di atas target 2% yang ditetapkan oleh Bank of Japan (BOJ). Perlambatan ini, yang terjadi meskipun laju inflasi tetap tinggi, kemungkinan akan mempertahankan spekulasi mengenai kemungkinan Bank of Japan akan terus menaikkan suku bunga. Data ini sangat penting bagi para pembuat kebijakan karena memberikan gambaran tentang tekanan harga yang mendasari perekonomian.

Meskipun laju inflasi melambat, hal ini tetap menjadi perhatian bagi BOJ. Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, sebelumnya mengindikasikan bahwa bank sentral mungkin akan terus menaikkan suku bunga jika pertumbuhan upah yang berkelanjutan mendukung belanja konsumen dan memungkinkan perusahaan untuk meneruskan biaya yang lebih tinggi. Situasi ini menunjukkan bahwa BOJ masih berhati-hati dalam memantau data ekonomi untuk memastikan inflasi dapat terkendali tanpa mengganggu pemulihan ekonomi secara keseluruhan.

Pembuat Kebijakan ECB Terpecah dalam Membahas Risiko Inflasi

Para pembuat kebijakan di Bank Sentral Eropa (ECB) menunjukkan adanya perpecahan dalam pandangan mereka mengenai risiko inflasi, seperti yang terungkap dari risalah pertemuan bulan Juli. Beberapa anggota dewan percaya bahwa risiko inflasi cenderung meningkat, didorong oleh faktor-faktor seperti kenaikan tarif dan upah. Sebaliknya, anggota lain berpendapat bahwa risiko tersebut lebih seimbang, dengan alasan bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi dan pelemahan permintaan konsumen akan membantu mengendalikan kenaikan harga. Perdebatan ini menyoroti tantangan yang dihadapi ECB dalam menyeimbangkan upaya untuk menurunkan inflasi dengan kekhawatiran akan menekan pertumbuhan ekonomi.

Kesenjangan dalam pandangan ini memengaruhi strategi masa depan ECB. Meskipun ada beberapa tanda bahwa inflasi inti melambat, kekhawatiran akan tekanan harga yang masih tinggi tetap menjadi topik utama diskusi. Ketidakpastian mengenai arah ekonomi dan tekanan eksternal seperti tarif global menambah kompleksitas dalam mengambil keputusan. Dengan perpecahan yang jelas di antara para pembuat kebijakan, arah kebijakan moneter ECB selanjutnya akan sangat bergantung pada data ekonomi yang akan datang dan bagaimana dewan akhirnya menyepakati penilaian risiko inflasi di zona euro.

Gubernur The Fed Christopher Waller Mendukung Pemotongan Suku Bunga Mulai September

Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, mengindikasikan bahwa ia mendukung pemotongan suku bunga AS sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan September. Ia juga “sepenuhnya memperkirakan” pemotongan suku bunga tambahan akan dilakukan dalam 3 hingga 6 bulan ke depan untuk membawa suku bunga kebijakan Fed lebih dekat ke tingkat netral. Waller beralasan bahwa langkah ini diperlukan untuk mencegah memburuknya kondisi pasar tenaga kerja yang sudah menunjukkan tanda-tanda pelemahan, meskipun inflasi masih terkendali. Ia menekankan pentingnya bagi Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) untuk bertindak proaktif dan tidak menunggu hingga kondisi memburuk.

Waller menganggap kebijakan moneter saat ini belum tertinggal, namun ia merasa sudah saatnya untuk melonggarkannya. Ia memperkirakan suku bunga netral berada di sekitar 3%, jauh di bawah kisaran saat ini 4,25% – 4,50%. Meskipun tidak menganggap perlu pemotongan lebih dari 25 basis poin pada bulan September, Waller menyatakan bahwa pandangan ini bisa berubah jika laporan pekerjaan Agustus menunjukkan pelemahan ekonomi yang signifikan. Ia juga menambahkan bahwa laju pemotongan suku bunga akan didasarkan pada data ekonomi yang masuk, dan bisa berupa serangkaian pemotongan atau jeda di antaranya. Waller dan Gubernur Fed lainnya, Michelle Bowman, sebelumnya tidak setuju dengan keputusan Fed untuk mempertahankan suku bunga pada bulan Juli, karena kekhawatiran mereka terhadap pasar tenaga kerja.

S&P 500 Capai Rekor Tertinggi Baru Didorong oleh Sentimen AI Positif

Indeks S&P 500 mencetak rekor penutupan tertinggi baru pada hari Kamis, mencapai 6.501,86 poin. Kenaikan sebesar 0,32% ini didorong oleh sentimen positif seputar kecerdasan buatan (AI) setelah laporan pendapatan dari Nvidia. Meskipun saham Nvidia sendiri sedikit menurun, laporan tersebut meyakinkan investor bahwa permintaan untuk infrastruktur AI tetap kuat, yang pada akhirnya mendorong saham-saham teknologi terkait AI lainnya.

Selain dorongan dari sektor teknologi, S&P 500 juga mendapat dukungan dari data ekonomi yang optimis, termasuk penurunan klaim pengangguran mingguan dan rebound keuntungan perusahaan. Faktor-faktor ini, ditambah dengan ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga, membantu mendorong indeks ke level tertinggi. Secara keseluruhan, tujuh dari 11 sektor S&P 500 mengalami kenaikan, dengan sektor layanan komunikasi dan energi memimpin penguatan.

Ingin mencoba trading Indeks dunia? Gunakan aplikasi trading terbaik dari HSB Investasi, broker forex terbaik yang teregulasi BAPPEBTI, untuk mulai trading saham Amerika seperti Nike dengan lebih percaya diri. Dengan HSB, kamu dapat memanfaatkan berbagai fitur unggulan dan promo broker forex yang membantu meningkatkan potensi profitmu.  Segera buka akun aplikasi trading forex HSB dan mulailah berinvestasi dengan lebih aman dan terampil. Unduh aplikasi trading saham untuk Android dan iOS di sini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News HSB Investasi untuk informasi dan edukasi seputar trading, investasi keuangan, dan ekonomi.

Bagikan Artikel