Rangkuman Berita Penting: Emas & Minyak Naik, Inflasi AS Jinak, Perak Tembus $89
Emas Menguat Tipis di Tengah Data Inflasi AS yang Melunak
Harga emas (XAU/USD) kembali menunjukkan taringnya di sesi Asia, menguat tipis berkat dorongan spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed pasca rilis data inflasi inti AS yang lebih rendah dari ekspektasi. Sentimen ini sukses menurunkan opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas, meski kenaikan lebih tinggi masih tertahan oleh solidnya data tenaga kerja yang menjaga kekuatan Dolar AS di pasar global.
Di sisi lain, faktor geopolitik tetap menjadi bantalan aman bagi harga emas, terutama dengan memanasnya situasi di Iran dan ancaman intervensi dari Presiden Trump yang memicu ketidakpastian baru. Pelaku pasar kini memilih bersikap waspada menanti rilis data Penjualan Ritel dan PPI AS, di mana tanda-tanda inflasi yang kembali memanas bisa saja membalikkan keadaan dan menekan harga logam mulia ini.
Minyak Dunia Naik Abaikan Stok AS, Fokus Risiko Iran
Harga minyak mentah WTI melanjutkan tren kenaikan, sama sekali tidak terpengaruh oleh laporan peningkatan persediaan minyak AS yang justru diabaikan oleh pasar. Fokus utama trader saat ini tertuju penuh pada risiko gangguan pasokan nyata dari Iran, menyusul protes besar-besaran dan ancaman sanksi tarif maupun aksi militer dari pemerintahan Trump yang bisa memutus aliran ekspor energi dari Teheran.
Meskipun ada kabar angin segar dari potensi kembalinya pasokan minyak Venezuela ke pasar global, sentimen ketakutan akan konflik di Timur Tengah masih jauh lebih dominan menggerakkan harga. Volatilitas diprediksi akan terus tinggi seiring pasar menimbang dampak kerusakan infrastruktur ekspor akibat konflik geopolitik yang meluas, menjadikan isu keamanan pasokan sebagai penggerak utama harga minyak saat ini.
Perak Cetak Rekor $89 Sebelum Terkoreksi Aksi Profit Taking
Harga perak sempat membuat kejutan dengan lonjakan tajam hingga menyentuh rekor tertinggi baru sepanjang masa di level $89,11 per troy ons, merespons data inflasi AS yang melunak. Namun, reli kencang ini segera terhenti karena indikator teknikal menunjukkan kondisi jenuh beli alias overextended, memicu aksi ambil untung massal yang memaksa harga terkoreksi kembali ke area $86.
Secara teknikal, munculnya divergensi pada indikator RSI menjadi sinyal peringatan bahwa momentum bullish mulai kehilangan tenaga dalam jangka pendek. Meski demikian, tren utama masih positif selama level support kunci terjaga, di mana penembusan kembali di atas area resistensi $88,00 akan menjadi kunci bagi perak untuk menguji ulang rekor tertingginya di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Inflasi AS Jinak Buka Jalan The Fed, Trump Tetap Kritik
Laporan CPI AS terbaru membawa angin segar dengan inflasi inti yang stabil di angka 2,6% secara tahunan, memberikan sinyal disinflasi yang dibutuhkan The Fed untuk mempertimbangkan pemangkasan bunga. Data yang sesuai ekspektasi ini sedikit meredakan kecemasan pasar, meski data tenaga kerja yang masih solid menjadi alasan kuat bagi bank sentral untuk tidak terburu-buru mengambil langkah agresif dalam pelonggaran kebijakan.
Di panggung politik, Presiden Trump kembali melancarkan serangan verbal kepada Jerome Powell, mendesak pemangkasan suku bunga yang signifikan demi memacu pertumbuhan ekonomi. Namun, pejabat The Fed tampaknya tidak terpengaruh dan tetap pada pendirian data-driven, membuat pasar kini beralih fokus pada data PPI dan Penjualan Ritel mendatang untuk konfirmasi arah kebijakan selanjutnya.
Yen Jepang Terpuruk ke Level Terendah Sejak Juli 2024
Mata uang Yen Jepang mengalami tekanan hebat hingga pasangan USD/JPY melonjak menembus level 159,00, mencatatkan posisi terlemahnya sejak pertengahan tahun lalu. Aksi jual Yen ini dipicu oleh ketidakpastian politik di Jepang terkait potensi pemilu dini dan kekhawatiran akan kebijakan fiskal longgar di bawah kepemimpinan yang mungkin lebih dovish, yang dianggap negatif bagi mata uang negara tersebut.
Di sisi lain, Dolar AS justru mendapatkan tenaga dari prospek suku bunga The Fed yang tidak secepat perkiraan awal, memperlebar selisih imbal hasil obligasi kedua negara. Analis memperingatkan bahwa tanpa adanya intervensi nyata atau perubahan sikap dari Bank of Japan, Yen berisiko melemah lebih lanjut, terutama jika data ekonomi AS terus menunjukkan ketahanan yang luar biasa.
Dolar Australia Bertahan Stabil Disokong Izin Bangunan
Dolar Australia (AUD) berhasil menahan gempuran penguatan Dolar AS, diperdagangkan stabil di kisaran 0,6680 berkat data domestik yang mengejutkan pasar. Lonjakan izin bangunan sebesar 15,2% di bulan November menjadi katalis positif, memicu spekulasi bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) mungkin harus tetap hawkish atau bahkan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan permintaan yang kuat.
Pelaku pasar kini menanti rilis data Neraca Perdagangan China sebagai sentimen penggerak berikutnya, mengingat posisi China sebagai mitra dagang utama Australia. Jika data ekspor China positif, AUD berpeluang menguat lebih lanjut, namun divergensi kebijakan antara RBA dan The Fed akan tetap menjadi tema utama yang menentukan arah tren pasangan mata uang ini ke depannya.
Euro Tergelincir di Bawah 1.1650 Tertekan Data Jobs AS
Pasangan EUR/USD harus rela tergelincir turun ke area 1,1642, gagal memanfaatkan momentum data inflasi AS yang sebenarnya melunak sesuai harapan pasar. Tekanan jual pada Euro terjadi karena investor lebih memilih fokus pada ketahanan pasar tenaga kerja AS yang solid, yang secara efektif menopang kekuatan Dolar dan meredam spekulasi pemangkasan bunga agresif oleh The Fed.
Situasi ini menempatkan Euro dalam posisi defensif menjelang pidato pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) yang dinantikan untuk petunjuk kebijakan moneter zona Euro. Jika data ekonomi AS seperti Penjualan Ritel nanti dirilis kuat, Euro berisiko tertekan lebih dalam, memperlebar jurang perbedaan kinerja ekonomi antara Amerika Serikat dan kawasan Eropa yang masih berjuang dengan pertumbuhan lambat.
Ingin mencoba trading Indeks dunia? Gunakan aplikasi trading terbaik dari HSB Investasi, broker forex terbaik yang teregulasi BAPPEBTI, untuk mulai trading saham Amerika seperti Nike dengan lebih percaya diri. Dengan HSB, kamu dapat memanfaatkan berbagai fitur unggulan dan promo broker forex yang membantu meningkatkan potensi profitmu. Segera buka akun aplikasi trading forex HSB dan mulailah berinvestasi dengan lebih aman dan terampil. Unduh aplikasi trading saham untuk Android dan iOS di sini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News HSB Investasi untuk informasi dan edukasi seputar trading, investasi keuangan, dan ekonomi.

