Rangkuman Berita Penting: Geopolitik & Data AS Pacu Gejolak Emas, Minyak hingga Valuta

the fed chairman Jerome Powell

Emas Melambung di Tengah Ketegangan Geopolitik AS-Iran

Harga emas (XAU/USD) sukses menutup perdagangan dengan lonjakan signifikan melampaui angka $5.082 per troy ons pada sesi sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh statusnya sebagai aset safe-haven seiring memanasnya hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran terkait kesepakatan nuklir. Presiden Donald Trump memperingatkan adanya tindakan tegas jika negosiasi tidak mencapai titik temu dalam waktu dekat.

Meskipun data tenaga kerja AS (NFP) baru saja dirilis lebih kuat dari perkiraan, logam mulia tetap mampu mempertahankan zona positifnya. Investor kini mulai mengalihkan fokus pada rilis data inflasi (CPI) AS yang dijadwalkan pada hari Jumat besok. Jika angka inflasi melandai, emas diprediksi akan mendapatkan momentum tambahan untuk melanjutkan tren pendakian harganya di pasar global.

Harga Minyak WTI Tertekan Lonjakan Persediaan AS

Harga minyak mentah WTI mengalami pelemahan tipis pada sesi Asia hari Kamis setelah sempat mencatat kenaikan di atas 1%. Tekanan jual muncul setelah laporan EIA menunjukkan adanya lonjakan persediaan minyak mentah AS yang cukup drastis sebesar 8,53 juta barel. Hal ini memicu kekhawatiran pasar akan adanya surplus pasokan di tengah kondisi ekonomi global yang masih dinamis.

Namun, penurunan harga minyak cenderung terbatas berkat meningkatnya risiko konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan kapal induk AS. Di sisi lain, OPEC tetap optimis dengan mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan global untuk jangka panjang hingga tahun 2027 mendatang. Kini pelaku pasar menantikan laporan bulanan dari IEA guna mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai keseimbangan pasar minyak dunia.

Yen Jepang Menguat Drastis Pasca Kemenangan Takaichi 

Pasangan mata uang USD/JPY terjebak dalam tren penurunan selama empat hari berturut-turut hingga mendekati level psikologis 153.00. Penguatan tajam Yen Jepang dipicu oleh kemenangan telak Sanae Takaichi dalam pemilihan perdana menteri yang membangkitkan harapan akan kebijakan fiskal bertanggung jawab. Investor berspekulasi bahwa Bank of Japan (BoJ) akan tetap mempertahankan sikap hawkish untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

Secara teknis, harga saat ini sedang menguji area rata-rata pergerakan 200 hari (EMA) di level 152.50 sebagai titik penentu arah. Jika tekanan jual berlanjut dan menembus level dukungan tersebut, maka fase koreksi USD/JPY diprediksi akan semakin dalam menuju level 151.95. Sebaliknya, pemulihan hanya mungkin terjadi jika sentimen terhadap Dolar AS kembali menguat secara signifikan di sesi perdagangan berikutnya.

Euro Bertahan Stabil di Tengah Divergensi Kebijakan Bank Sentral 

Pasangan mata uang EUR/USD bergerak stabil di kisaran 1.1875 meskipun menghadapi tekanan dari penguatan data tenaga kerja Amerika Serikat. Euro mendapatkan dukungan kuat dari spekulasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) kemungkinan besar akan menahan suku bunga tetap stabil hingga akhir tahun ini. Hal ini menciptakan jarak kebijakan yang kontras dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve di masa depan.

Meskipun pejabat The Fed memberikan komentar yang cenderung ketat mengenai inflasi, sentimen bullish terhadap mata uang tunggal Eropa ini masih terjaga. Fokus pasar kini tertuju pada rilis data pengangguran mingguan AS dan laporan inflasi konsumen yang akan dipublikasikan esok hari. Investor memperkirakan pergerakan EUR/USD akan tetap tertahan dalam rentang sempit hingga rilis data ekonomi krusial tersebut keluar.

Indeks Dolar AS Melemah Meski Data Tenaga Kerja Solid 

Indeks Dolar AS (DXY) terpantau bergerak turun di bawah level 97.00 meskipun laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Januari mencatatkan hasil di atas ekspektasi. Penambahan 130.000 pekerjaan dan turunnya tingkat pengangguran menjadi 4,3% ternyata belum cukup kuat untuk memicu reli Dolar yang berkelanjutan. Pasar tampaknya lebih mengkhawatirkan perlambatan data penjualan ritel dan prediksi pertumbuhan tenaga kerja yang melandai.

Ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve juga masih terbagi antara mempertahankan suku bunga atau mulai melonggarkan kebijakan di akhir tahun. Komentar dari beberapa pejabat Fed yang menyarankan suku bunga tetap ketat untuk menekan inflasi memberikan sedikit perlindungan bagi mata uang Greenback. Hingga data inflasi CPI dirilis, Dolar AS diprediksi akan terus berfluktuasi dengan kecenderungan melemah terhadap mata uang utama lainnya.

Harga Perak Merosot Tajam Menuju Level Dukungan Kunci 

Perak (XAG/USD) mengalami tekanan jual yang cukup berat pada sesi Asia hari Kamis dengan penurunan harian mencapai lebih dari 2,5%. Kegagalan harga untuk menembus level resistance harian memicu aksi ambil untung dari para investor yang sebelumnya mendulang cuan. Saat ini, logam putih tersebut diperdagangkan di bawah kisaran $82.00, menghapus sebagian besar keuntungan yang diraih pada sesi perdagangan sebelumnya.

Secara teknikal, indikator momentum menunjukkan adanya pelemahan daya beli yang cukup signifikan di tengah kondisi pasar yang berkonsolidasi. Perak kini berisiko merosot lebih jauh menuju level $77.56 jika tidak mampu bertahan di atas level dukungan Fibonacci saat ini. Para trader sedang memperhatikan apakah perak dapat merebut kembali posisi di atas rata-rata pergerakan 200 periode untuk memperbaiki prospek jangka panjangnya.

Fokus Pasar Tertuju pada Inflasi AS sebagai Penentu Arah Komoditas 

Pasar keuangan global saat ini sedang berada dalam fase “menunggu” menjelang rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat. Data ini dianggap sangat krusial karena akan menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve untuk sisa tahun 2026. Inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat memicu pelemahan Dolar AS dan memberikan dorongan besar bagi komoditas seperti emas dan perak.

Di sisi lain, jika inflasi tetap tinggi di angka 2,5% atau lebih, maka emas sebagai aset tanpa imbal hasil akan kembali tertekan oleh Dolar yang menguat. Ketidakpastian mengenai kepemimpinan The Fed di bawah calon baru juga menambah lapisan volatilitas pada instrumen mata uang utama seperti Yen dan Euro. Oleh karena itu, para pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap lonjakan volume perdagangan yang mungkin terjadi esok hari.

Ingin mencoba trading Indeks dunia? Gunakan aplikasi trading terbaik dari HSB Investasi, broker forex terbaik yang teregulasi BAPPEBTI, untuk mulai trading saham Amerika seperti Nike dengan lebih percaya diri. Dengan HSB, kamu dapat memanfaatkan berbagai fitur unggulan dan promo broker forex yang membantu meningkatkan potensi profitmu.  Segera buka akun aplikasi trading forex HSB dan mulailah berinvestasi dengan lebih aman dan terampil. Unduh aplikasi trading saham untuk Android dan iOS di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News HSB Investasi untuk informasi dan edukasi seputar trading, investasi keuangan, dan ekonomi.

Bagikan Artikel