Pasangan GBP/USD adalah salah satu pasangan mata uang yang memiliki tingkat likuiditas tinggi di pasar forex. Spread yang kecil, volume dan tingkat volatilitas yang tinggi menjadikan GBP/USD sebagai pasangan yang populer diperdagangkan. Selain itu volume peredaran uang kertas yang tinggi juga merupakan keunikan pasangan mata uang ini. Jam sibuk ketika pasangan GBP/USD sering mengalami volatilitas adalah pukul 1 siang hingga 11 malam WIB.

Ketika tahun 1800an hingga 1910an 1 pound setara dengan 5 dollar. Ketika terjadi Perang Sipil di AS, pound naik hingga 10 dollar. Sebelum Perang Dunia pertama, lebih dari 60% utang global dalam bentuk pound. Namun semenjak 1920an ,nilai dollar pelan-pelan meningkat. Pada tahun 1971, poundsterling menjadi mata uang free floating. Bertepatan dengan mata uang USD yang juga mengadopsi free floating. Sama-sama mengadopsi free floating dan bila dibandingkan dengan US dollar, poundsterling mengalami depresiasi yang membuat pasar berasumsi bahwa poundsterling melemah. Namun apabila memperhitungkan faktor inflasi, maka asumsi tersebut tidaklah benar.

Terdapat beberapa kejadian penting dimana GBP/USD mengalami crash, entah itu pound mengalami depresiasi atas dollar, atau dollar mengalami apresiasi terhadap pound. Pada tahun 2009, dimana terjadi The Great Recession, nilai pound terhadap dollar mengalami penurunan dimana 1 pound setara dengan 1,386 dollar. Pakar berspekulasi bahwa hal itu dikarenakan bantuan pemerintah untuk menyelamatkan sektor perbankan. Kemudian tahun 2016, dimana Inggris Raya mengadakan referendum untuk keluar dari Perserikatan Eropa. Ketika pengumuman tersebut diberitahukan kepada publik, pound sterling mengalami penurunan terendah terhadap US dollar sejak 1985. Oleh karena itu trader harus selalu memperhatikan hubungan antara UK dengan Perserikatan Eropa (EU) setelah Brexit karena segala sesuatu yang terjadi dari hubungan tersebut sangat mempengaruhi nilai GBP.

Faktor lain yang mempengaruhi pasangan mata uang ini adalah GDP, tingkat ketenagakerjaan, tingkat suku bunga, tingkat inflasi, kondisi politik, dan sebagainya. Kebijakan moneter juga merupakan salah satu faktor penting tersebut. Bank sentral UK meninjau tingkat suku bunga setiap bulan, sementara bank sentral US meninjau tingkat suku bunga delapan kali setahun.

Disclaimer

Artikel di atas hanyalah sebagai informasi dan pendidikan saja. Informasi di atas tidak bertujuan untuk dijadikan saran. Produk dengan leverage memiliki tingkat risiko yang tinggi terhadap modal yang Anda investasikan. Nilai investasi dapat turun atau naik dan Anda dapat kehilangan pembayaran margin awal Anda. Pastikan Anda telah memahami sepenuhnya semua risiko yang terlibat sebelum trading di aplikasi trading HSB.