Home Pengetahuan Keuangan Seluk Beluk Reverse Stock Split dan 2 Contohnya

Seluk Beluk Reverse Stock Split dan 2 Contohnya

by HSB
0 comment

Dalam dunia pasar modal, ada yang disebut dengan stock split dan reverse stock split. Jika stock split merupakan pemecahan saham, maka reverse stock split adalah proses penggabungan saham secara efektif. 

Penggabungan saham dilakukan untuk memengaruhi pasar modal, supaya tidak berdampak buruk bagi perusahaan saat situasi pasar selalu berubah-ubah. Dalam hal ini, perusahaan akan menggabungkan nilai-nilai sahamnya dan menghasilkan sejumlah kecil saham yang dianggap lebih bernilai dari sebelumnya. 

Dalam kata lain, perusahaan melakukan reverse stock split untuk mengendalikan harga saham di pasar modal. Di bawah ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai pengertian reverse stock split serta cara kerjanya.

Pengertian Reverse Stock Split

Reverse stock split merupakan kebalikan dari stock split. Apabila stock split menaikkan jumlah saham, maka reverse stock split bekerja dengan menurunkan jumlah saham yang diperdagangkan untuk menaikkan harga saham.

Saat melakukan reverse split stock, perusahaan akan membatalkan semua saham yang beredar di pasar modal. Kemudian, perusahaan tersebut akan mendistribusikan saham baru dengan jumlah saham yang lebih kecil.

Ketika perusahaan hendak melakukan reverse stock split, pihak manajemen perusahaan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari pemegang saham. Untuk itu, sebelum reverse stock split dilakukan, perusahaan akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham terlebih dahulu untuk mendapatkan hak suara dari pemegang saham.

Aksi reverse stock split ini dilakukan dengan tujuan untuk menyelamatkan kondisi perusahaan, supaya tetap memenuhi persyaratan untuk melakukan jual beli saham di pasar modal. Bagi sebagian investor, saat perusahaan melakukan reverse stock artinya sebuah tanda bahwa ada masalah keuangan yang terjadi pada perusahaan tersebut. 

Cara Kerja Reverse Stock Split

Reverse Stock Split

Reverse stock split bekerja dengan menurunkan sejumlah saham yang ada di pasar untuk mencapai peningkatan harga saham. Ketika reverse stock split terjadi, maka perusahaan akan membatalkan setiap saham yang ada di pasar dan menerbitkan saham baru.

Jumlah saham yang baru diterbitkan tersebut akan sejalan dengan jumlah saham yang dimiliki perusahaan. Bisa dikatakan jumlah saham tersebut kecil. Reverse stock split sendiri termasuk tindakan antisipasi yang disarankan pihak manajemen perusahaan dengan mendapat persetujuan terlebih dahulu dari para pemegang saham.

Harga saham baru ketika dilakukan reverse stock split akan ditentukan melalui perbandingan yang telah ditentukan sebelumnya. Misalnya, harga saham saat ini akan disesuaikan dengan harga saham tujuan. Perbandingan harga dan jumlah saham juga disesuaikan dengan ketentuan yang tentunya telah ditetapkan sebelumnya.

Kapan Perusahaan Melakukan Reverse Stock Split?

Reverse stock split adalah aksi perusahaan dalam mengendalikan saham, terutama saat nilai saham tersebut sedang bernilai rendah. Sementara itu, beberapa investor kurang tertarik pada harga saham yang rendah, lantaran persepsi saham yang dijual rendah biasanya berkonotasi negatif.

Untuk menarik kembali minat para investor supaya menanamkan modal, maka dilakukan tindakan reverse stock split. Hal ini karena perusahaan berusaha memulihkan kembali harga saham pada nilai yang lebih optimal. 

Selain untuk menarik minat para investor, reverse stock split dilakukan supaya perusahaan bisa terus berada di pasar modal. Hal ini mengacu pada penyelamatan perusahaan supaya sahamnya tidak berada pada titik terendah di Bursa Efek Indonesia (BEI). Mengingat BEI punya batas persyaratan bagi setiap emiten yang sahamnya terus mengalami penurunan nilai. 

Apabila harga saham terus menurun dan melebihi batas persyaratan yang ditetapkan BEI, maka BEI akan melakukan delisting saham atau penghapusan catatan saham di bursa efek. Proses delisting ini sendiri terjadi melalui penilaian BEI, hingga akhirnya diputuskan bahwa saham tersebut tidak lagi tersedia di bursa efek.

Adanya peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan BEI, membuat setiap perusahaan yang mengalami penurunan nilai saham akan melakukan antisipasi. Salah satunya dengan melakukan reverse stock split. 

Tidak itu saja, strategi reverse stock split juga dilakukan untuk mengurangi jumlah pemegang saham. Tujuannya supaya perusahaan dapat mengelola dan mengatur pemegang saham secara lebih mudah. Mengingat setiap keputusan saham dari segi bisnis akan melibatkan para pemegang saham. 

Contoh Reverse Stock Split

Contoh Reverse Stock Split

Seperti yang dibahas sebelumnya, perusahaan akan melakukan reverse stock split dengan menetapkan sebuah perbandingan atau rasio. Perbandingan tersebut akan disesuaikan dengan kondisi saham perusahaan itu sendiri. Namun, perusahaan yang melakukan reverse stock split ini bisa dikatakan cukup jarang. Nah, supaya kamu bisa mendapat gambaran mengenai cara kerja reverse stock split ini, simak contoh berikut ini.

1. Reverse Stock Split Perusahaan A dengan Perbandingan 2:1

Sebuah perusahaan A memiliki 100.000 lembar saham dengan harga masing-masing Rp1.000. Perusahaan A tersebut akan melakukan reverse stock split dengan perbandingan 2:1. Maka jumlah saham akan menurun jadi setengahnya yaitu 50.000 lembar. 

Untuk harga sahamnya sendiri akan meningkat dua kali lipat menjadi Rp2.000. Jadi, sebelum maupun sesudah melakukan reverse stock split, kapitalisasi pasar saham perusahaan A tersebut tetap sama yakni Rp100.000.000.

2. Reverse Stock Split Perusahaan C dengan Perbandingan 3:1

Contoh lainnya, kamu memiliki saham sebanyak 1.800 di perusahaan C dengan harga Rp3.000 per lembar. Apabila perusahaan tersebut melakukan reverse stock split dengan perbandingan 3:1, maka tambahan saham baru yang kamu miliki yaitu 600 lembar dengan harga baru Rp9.000 per lembar.

3. Reverse Stock Split PT Smartfren Telecom Tbk 

Untuk contoh perusahaan yang melakukan reverse stock split adalah PT Smartfren Telecom Tbk (FREN). Pada tahun 2012, FREN pernah melakukan stock split dengan rasio 20:1. Untuk harga awal saham FREN yaitu Rp100 per lot. Kemudian pihak perusahaan melakukan reverse stock split dengan menaikkan harga saham menjadi Rp2.000 per lot saham.

Secara umum, reverse stock split tidak memengaruhi nilai perusahaan. Meski begitu, aksi ini dapat menyelamatkan perusahaan dari kehilangan nilai saham yang substansial di pasar modal. Jadi, bisa dikatakan juga aksi reverse stock split ini merupakan langkah perusahaan dalam mempertahankan keberlangsungan bisnis yang sedang dijalankan.

Oleh sebab itu, penting bagi perusahaan menerapkan strategi reverse stock split supaya tetap mendapatkan pendanaan melalui pasar modal. Konotasi negatif terhadap perusahaan pun perlahan akan berubah dan berdampak baik bagi perusahaan.

Baca juga: Inilah Cara Menghitung Rasio Likuiditas dengan Benar

Nah, bagi kamu yang tertarik berinvestasi di pasar modal khususnya instrumen saham, kini bisa dilakukan dengan lebih mudah hanya melalui ponsel di aplikasi HSB. Sebuah aplikasi trading saham yang aman dan transparan untuk proses transaksinya. 

Bahkan kamu bisa belajar memahami cara kerja trading terlebih dahulu dengan membuat akun demo. Jika sudah paham, kamu bisa membuka akun live dan mulai untuk trading. Jadi, tunggu apalagi? Download aplikasi HSB sekarang juga dan rasakan trading saham yang aman, cepat, dan transparan hanya bersama HSB. ***

Banner Trading

Mungkin kamu suka

Leave a Comment

HSB Investasi

HSB Investasi merupakan perusahaan pialang fintech dengan fokus dan mengutamakan Iam menyediakan layanan jasa Perdagangan Foreign Exchange (Forex), Komoditas dan Indeks Saham (stock index) dibawah PT. Handal Semesta Berjangka. Diawasi oleh otoritas keuangan, terdaftar dan diawasi oleh Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi.

Contact Us

Hotline:

+62 21-501-22288