Meskipun pasar AS akan memasuki hari libur Kemerdekaan pada hari Kamis, pasar akan relatif tenang, Namun tuduhan terbaru Presiden AS Trump tentang manipulasi nilai tukar dalam semalam telah memperingatkan analis untuk mempersiapkan tindakan yang mungkin dilakukan oleh pemerintah dalam langkah selanjutnya. Dolar jatuh terhadap enam mata uang dari harga tertinggi dua minggu pada hari Selasa, yang tertahan di 96,76 pada hari Rabu.

☆ Tidak ada tuduhan manipulator! Trump merilis sinyal intervensi di pasar valuta asing.

Trump mengeluarkan posting di Twitter pada hari Rabu yang mengatakan Eropa dan Negara lain sedang melakukan “drama manipulasi”. Bagi pengamat pasar, isi tweet tampak bukan hanya pembicaraan verbal. Kicauannya menunjukkan bahwa “Amerika Serikat harus mengambil tindakan yang serupa, jika tidak, ia hanya akan duduk menyaksikan permainan negara lain.” Para ahli strategi percaya bahwa Departemen Keuangan AS dapat melakukan intervensi harga dolar AS untuk menurunkan nilai tukar.

Sejak gempa Jepang tahun 2011, AS belum melakukan intervensi nilai tukar sejauh ini (nilai tukar Yen melonjak dan sikap dukungan Departemen Keuangan AS kepada dolar AS). Tetapi Canadian Imperial Bank of Commerce (CIBC) berpendapat apa pun dapat terjadi di masa depan, mengingat bahwa Trump telah berulang kali mengeluh tentang kekuatan dolar, bahkan jika Amerika Serikat tidak mencantumkan ekonomi sebagai manipulator pada akhir Mei tahun ini.

Meskipun laporan Departemen Keuangan memberikan kesimpulan berbeda tentang manipulasi nilai tukar bulan lalu, obsesi Trump menunjukkan AS harus siap untuk melakukan apa pun. Bipan Rai, kepala strategi pertukaran mata uang asing Kanad CIBC mengatakan. Selama beberapa dekade, Departemen Keuangan AS belum memasuki pasar dengan menurunkan nilai dolar AS, tetapi kami tidak akan kaget jika Trump berubah sikap.

Setelah Trump merilis tweet tentang manipulasi nilai tukar, harga euro pernah mencapai level tertinggi harian dan kemudian jatuh lagi. Sedangkan nilai RMB tidak bergerak, nilai tukar USD / RMB pada dasarnya datar di sekitar 6,88. Setelah kenaikan 3,2% pada 2018, indeks dolar Bloomberg turun sekitar 0,4% sepanjang tahun ini. Tetapi jika diukur dengan indikator nilai tukar tertimbang federal AS, dolar tidak jauh dari level tertinggi sejak tahun 2002, yang dapat membuat daya saing ekspor AS menurun.

 

Rai mengatakan jika Fed tidak menerapkan kebijakan pelonggaran pada pertemuan bulan ini, risiko intervensi mata uang akan meningkat. Trump telah berulang kali menekan Ketua Federal Reserve Jerome Powell beberapa bulan terakhir. Bulan lalu ia menuduh The Fed menolak untuk memotong suku bunga seperti “anak yang keras kepala.”

Ahli strategi valuta asing Bank of America Ben Randol mengatakan melalui email, “Presiden kemungkinan akan berhasil setidaknya untuk sementara waktu. Namun, jika ekonomi AS terus kuat dan dolar menunjukkan ketahanan yang sesuai, maka masalahnya akan datang,” katanya. “Dalam hal ini, jika Fed memotong suku bunga lebih rendah dari yang diharapkan, intervensi administrasi Trump di pasar valuta asing akan meningkat.”

☆Pasar AS menyambut Hari libur Kemerdekaan! Pasar menunggu data non-farm AS pada hari Jumat

 Pasar AS akan menyambut Hari libur Kemerdekaan pada hari Kamis, dan transaksi pasar diperkirakan akan sedikit lebih tenang. Namun, investor menunggu laporan non-farm payrolls Juni AS dirilis pada hari Jumat, pasar memperkirakan akan menambah 160.000 pekerjaan baru.

Laporan ekonomi AS yang dirilis pada hari Rabu beragam, dan tidak benar-benar mengubah arah tren dolar. Laporan Ketenagakerjaan Nasional yang dirilis oleh ADP pada hari Rabu menunjukkan bahwa lapangan kerja swasta meningkat sebesar 102.000 pada bulan Juni, jauh lebih tinggi dari peningkatan 41.000 pada bulan Mei, tetapi lebih rendah dari 140.000 yang diperkirakan oleh para ekonom.

Paul Ashworth, kepala ekonom AS di Kay, mengatakan laporan ADP menunjukkan bahwa kemunduran umum ekonomi telah menyebar ke pasar tenaga kerja. Menambahkan “Bahkan jika negosiasi perdagangan dilanjutkan, setidaknya dari situasi saat ini, tanda-tanda perlambatan pertumbuhan lapangan kerja masih cukup untuk meyakinkan The Fed untuk menurunkan suku bunga pada bulan Juli atau September, tetapi ekspektasi penurunan suku bunga 50 basis poin tampaknya agak berlebihan,”.

Data yang dirilis pada hari Rabu juga menunjukkan bahwa jumlah klaim pengangguran awal AS turun lebih dari yang diperkirakan minggu lalu, setelah penyesuaian musiman 221.000, defisit perdagangan AS pada Mei meningkat dari $ 51,2 miliar pada April menjadi $ 55,5 miliar.

Data industri jasa AS juga lesu, Institute of Supply Management (ISM) melaporkan bahwa indeks aktivitas non-manufaktur AS turun menjadi 55,1 pada Juni dari 56,9 pada Mei.

Selama perdagangan sore di sesi New York semalam, dolar turun 0,1% terhadap Yen ke 107,82, setelah jatuh ke level terendah satu minggu di 107,54. Dolar jatuh terhadap enam mata uang dari level tertinggi dua minggu pada hari Selasa, yang tertahan datar di 96,765 pada hari Rabu. Indeks dolar AS turun lebih awal, karena imbal hasil obligasi melanjutkan penurunan pada hari sebelumnya, dan imbal hasil obligasi AS 10-tahun mencapai level terendah dua setengah tahun di bawah 1,94%.

Semakin banyak orang mengharapkan Fed untuk memotong suku bunga pertama kalinya dalam 10 tahun pada pertemuan kebijakan bulan ini. Pasar mengharapkan bahwa kemungkinan pemotongan 25-bp dalam pertemuan kebijakan berikutnya adalah lebih dari 70%. “Kami terus mendukung pandangan bahwa dolar akan turun ke seluruh lini,” kata Mark McCormick, kepala strategi valuta asing global di TD Securities. “Yen dan mata uang negara berkembang dengan imbal hasil tinggi naik bulan lalu, mencerminkan pandangan bahwa pasar tidak optimis tentang dolar.”

Selain itu, euro terhadap dolar AS pada dasarnya tertahan di $ 1,1283 setelah diperdagangkan pada hari Selasa. Euro naik secara singkat pada hari Selasa setelah laporan media mengatakan bahwa Bank Sentral Eropa tidak terburu-buru untuk memotong suku bunga pada pertemuan Juli. Tetapi setelah berita dari Ketua Dana Moneter Internasional (IMF) Lagarde dinominasikan sebagai presiden Bank Sentral Eropa berikutnya, euro jatuh. Dia dianggap sebagai biang kerok kebijakan dovish.