📉 Dollar Perkasa dan Kekhawatiran Inflasi Seret Emas ke Bawah $5.100
Harga emas (XAU/USD) merosot ke kisaran $5.085 per troy ons di awal sesi perdagangan karena tertekan oleh penguatan Dollar AS. Lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah telah memicu kekhawatiran inflasi baru, yang memaksa para trader mengurangi ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan suku bunga oleh Federal Reserve. Meskipun permintaan aset aman tetap ada seiring meningkatnya serangan rudal Iran di wilayah Teluk, pelemahan harga emas lebih didorong oleh penguatan Dollar dan upaya pelaku pasar dalam mencari likuiditas. Saat ini, perhatian pasar tertuju sepenuhnya pada rilis laporan tenaga kerja Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar malam nanti untuk menentukan arah harga selanjutnya.
🛢️ Perang AS-Iran di Selat Hormuz Picu Lonjakan Minyak WTI ke Atas $78
Harga minyak mentah WTI melonjak melewati level $78,10 setelah mencatatkan kenaikan harian sebesar 8,5%, yang merupakan kenaikan terbesar sejak tahun 2020. Kenaikan tajam ini dipicu oleh eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran yang mengakibatkan terhentinya lalu lintas pengiriman di Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dunia. Serangan terhadap kapal tangker terus berlanjut di wilayah Teluk, termasuk laporan adanya kerusakan pada tangker berbendera Bahama akibat ledakan di dekat pelabuhan Irak. Namun, potensi kenaikan harga sedikit tertahan oleh laporan EIA yang menunjukkan cadangan minyak mentah AS naik sebesar 3,475 juta barel, melebihi prediksi pasar.
🥈 Krisis Timur Tengah Dorong Perak Melompat ke Atas Level $82
Harga perak (XAG/USD) bertahan kuat di posisi positif sekitar $82,20 karena mendapatkan dukungan dari statusnya sebagai aset aman selama kampanye militer AS-Israel terhadap Iran berlangsung. Ketakutan akan perang yang berkepanjangan di Timur Tengah terus meningkatkan minat beli terhadap logam putih ini. Pihak Iran sendiri telah menyatakan secara tegas bahwa mereka tidak berniat melakukan negosiasi atau meminta gencatan senjata, yang membuat risiko geopolitik tetap tinggi. Para trader kini sedang menanti rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Februari untuk melihat apakah kondisi pasar tenaga kerja AS akan memperkuat Dollar dan berpotensi menekan harga perak kembali.
🚫 Trump Tolak Dialog Damai karena Ambisi Menghancurkan Kekuatan Iran
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa pejabat Iran sempat mencoba menghubunginya untuk mencari kesepakatan damai guna mengakhiri perang. Namun, Trump menegaskan bahwa upaya tersebut sudah “terlambat” dan menyatakan bahwa fokus Amerika Serikat saat ini adalah untuk menghancurkan kekuatan Iran sepenuhnya. Pernyataan keras ini memicu gejolak di pasar keuangan, di mana ketidakpastian geopolitik diprediksi tidak akan mereda dalam waktu dekat. Hal ini secara langsung menjaga volatilitas tetap tinggi pada berbagai instrumen aset aman seperti emas, perak, dan mata uang Yen seiring meningkatnya serangan balasan di kawasan Teluk.
🏛️ Independensi Fed dan Inflasi Lengket Jadi Fokus Utama Pejabat Bank Sentral
Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee menekankan bahwa independensi bank sentral sangat krusial dalam mengendalikan inflasi, terutama di tengah krisis kepercayaan terhadap berbagai lembaga publik. Sementara itu, Presiden Fed Richmond Thomas Barkin menyuarakan kekhawatiran mengenai inflasi yang masih “lengket” dan pasar tenaga kerja yang tetap solid, mengindikasikan bahwa pertempuran melawan kenaikan harga belum selesai. Kondisi ekonomi ini memicu kemungkinan pergeseran risiko yang membuat para trader harus bersiap menghadapi kebijakan suku bunga ketat lebih lama. Struktur federasi bank sentral dinilai tetap bekerja dengan baik untuk menjaga stabilitas meskipun tekanan ekonomi makro terus meningkat.
💴 Ketidakpastian Kebijakan BoJ dan Konflik Global Bebani Posisi Yen Jepang
Pasangan USD/JPY diperdagangkan di kisaran 157,40 karena Yen menghadapi tekanan dari tantangan ekonomi domestik Jepang yang lesu dan inflasi tinggi akibat risiko eksternal. Gubernur BoJ Kazuo Ueda memperingatkan bahwa konflik Timur Tengah dapat berdampak material pada ekonomi, yang mensinyalkan bank sentral mungkin menahan suku bunga dalam periode yang lebih lama. Di sisi lain, Dollar AS terus menguat seiring pejabat Fed yang masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap berada di atas target. Para pelaku pasar saat ini sedang mengamati rilis laporan Nonfarm Payrolls (NFP) untuk melihat potensi pembalikan arah nilai tukar Yen.
🇪🇺 Data Tenaga Kerja AS yang Solid Tekan Euro Menuju Level 1.1600
Mata uang Euro (EUR/USD) melemah menuju level 1,1600 akibat sentimen penghindaran risiko dan rilis data tenaga kerja AS yang menunjukkan kekuatan ekonomi. Klaim pengangguran mingguan AS tercatat sebesar 213 ribu, lebih rendah dari perkiraan, yang semakin memperkuat nilai tukar Dollar. Meskipun ECB memilih untuk menahan suku bunga, eskalasi konflik antara AS dan Iran telah memperburuk prospek ekonomi Eropa yang sangat bergantung pada impor energi. Fokus pasar kini beralih pada rilis data PDB Eurozone serta angka penjualan ritel dan laporan tenaga kerja Amerika Serikat untuk mendapatkan momentum pergerakan selanjutnya.
Market Outlook 06 Maret 2026
1. XAUUSD
2. USOil
3. Nasdaq
4. EUR/USD
5. USD/JPY
6. GBP/USD
Perubahan Harga Harian 06 Maret 2026

Kalender Ekonomi 06 Maret 2026
Disclaimer: Konten daily report bersifat spekulatif dan tidak menjamin. Seluruh transaksi yang diambil menjadi tanggung jawab nasabah.
Daily Report disediakan sebagai referensi untuk membantu trading harian Anda. Jika ada pertanyaan seputar market harian, silakan langsung menghubungi RM Anda.











