RINGKASAN 15 Januari 2020

  • Mata uang Non Dollar Menguat, Rawan Breakout
  • Emas Potensial Lanjutkan Trend Penurunan ke 1522
  • Minyak Berada Di Titik Swing Low, Potensial Rebound

Mata Uang Non Dollar Menguat, Rawan Breakout

Dollar melemah terhadap berbagai mata uang utama setelah dirilis data inflasi CPI yang melemah ke 2.3% dibawah estimasi 2.4%, selain itu terdapat kejutan bahwa kenaikan tarif impor China tidak jadi dihapus bersamaan dengan penandatanganan kesepakatan dagang fase satu hari ini. Padahal para pelaku pasar mengharapkan kenaikan tarif impor tersebut dapat dihapus secepatnya, namun menjadi diundur hingga pemilu AS 2020. Alhasil Poundsterling, Euro menguat, sedangkan mata uang safe haven seperti Yen Jepang dan Swiss Franc perlahan terkerek naik terhadap Dollar. Sementara pairing USDCAD turun tipis seiring rebound harga minyak.

Menteri keuangan AS, Steven Mnuchin, melalui pernyataan pers, menyatakan AS belum akan mencabut semua tarif produk Impor Tiongkok yang sudah berlaku hingga pembahasan kesepakatan dagang tahap ke-2. Kabar negatif lainnya adalah upaya tim administrasi Trump untuk kembali membatasi penjualan teknologi-teknologi AS kepada perusahaan telekomunikasi Tiongkok, Huawei. Sikap AS ini terus menambah kekhawatiran pelaku pasar kemungkinan berlanjutnya perang dagang kedua negara sehingga menghambat pemulihan ekonomi AS, sehingga mata uang Dollar menjadi kurang diminati.

Di lain, sisi, mata uang Poundsterling melanjutkan trend penguatan diatas 1.3000, seiring optimisme Brexit membantu pairing GBPUSD menguat, stabil diatas 1.3000 , menjadi rawan breakout keatas mengincar area resisten 1.3045 – 1.3080.

Emas Rebound Setelah Turun Empat Hari Berturut

Emas berhasil rebound dari titik nadir $1535 per troy ons, sejauh ini mendekati level resisten penting $1553 per troy ons. Penembusan konsisten diatas level resisten ini, memberikan sinyal trend kenaikan lebih lanjut mengincar target $1562 per troy ons.

Rebound Emas dipicu oleh penurunan yield obligasi AS tenor 10-tahun yang merespon pesimisme akselerasi ekonomi AS di 2020, karena kecemasan perang dagang yang masih berlanjut setelah AS memutuskan tidak menghapus tarif kenaikan impor China dalam waktu dekat, melainkan diundur hingga pemilu AS 2020.

Sementara fundamental ekonomi AS juga tidak terlalu menggembirakan, dimana laju pertumbuhan GDP diperkirakan masih berada di siklus rendah nya dan masih menunjukkan trend penurunan sejak peak level tahun 2017. Alhasil aset safe haven seperti Emas kembali diminati setidaknya di jangka pendek ini.

Minyak Berada Di Titik Swing Low, Potensial Rebound

Penurunan harga minyak mulai mereda, seiring faktor redanya ketegangan Timur Tengah dan kecemasan oversupply paska laporan stok cadangan minyak EIA naik 1.2 juta barrel. Namun Minyak berpotensi untuk rebound kembali, seiring membaiknya tingkat konsumsi minyak global, ditengah membaiknya hubungan dagang AS-Tiongkok, serta potensi perbaikan ekonomi global yang terhindar dari resesi.

Secara teknikal titik swing Low minyak di area 57.91, merupakan level support kuat, dimana harga berpotensi terpantul dari zona Swing Low tersebut, setidaknya mengincar target intraday di $58.95 per barrel. Fokus selanjutnya akan tertuju pada data crude oil inventory EIA nanti malam yang diperkirakan menunjukkan penurunan pasokan cadangan minyak AS yang seharusnya berpotensi menopang harga minyak.

market performance 15 january 2020

market technical overview 15 january 2020

index technical overview 15 january 2020

Disclaimer

The rate and other information rendered herein by education & analysis PT Hanson Semesta Berjangka has been obtained from sources we believe reliable, but we can’t represent that they are complete and accurate. We are not responsible to any offer to sell or solicitation of an offer to purchase base on the rate and information contained