RINGKASAN

▪ Dollar Berbalik Menguat Ditengah Kecemasan Virus Gelombang Kedua
▪ Emas Terkoreksi Dari Level Tinggi 7.5 Tahun
▪ Tema Stagflasi Cenderung Bullish Untuk Komoditas Minyak

Dollar Berbalik Menguat Ditengah Kecemasan Virus Gelombang Kedua

Dollar AS berhasil menguat kemarin karena faktor safe haven setelah kenaikan jumlah kasus positif virus Covid-19 gelombang kedua di AS telah mengikis harapan pemulihan ekonomi yang cepat. Gubernur New York, New Jersey dan Connecticut mengumumkan bahwa mereka akan meminta wisatawan dari negara-negara yang tingkat infeksi Covid-19 tinggi untuk dikarantina di saat kedatangan. Kerusakan ekonomi yang lebih luas akibat virus, telah memaksa IMF memangkas proyeksi output global
tahun ini. Permintaan safe haven dollar semakin meningkat setelah berita yang menyebutkan bahwa AS sedang mempertimbangkan untuk mengubah tarif impor pada berbagai produk Eropa. Secara terpisah mata uang Dollar Kanada turun tajam berbanding Dollar setelah lembaga pemeringgkat Fitch menurunkan peringkat utang Kanada menjadi AA+ dari sebelumnya AAA. Fokus Hari Ini akan tertuju pada: ECB Minutes, Pertumbuhan GDP, Durable Goods Orders & Jobless Claims AS. GDP AS diperkirakan kontraksi 5% di kuartal 1-2020, sementara jobless claims diperkirakan turun 1,300 ribu.

Emas Terkoreksi Dari Level Tinggi 7.5 Tahun

Harga emas terkoreksi dari level tertinggi 7,5 tahun nya kemarin akibat rebalancing dana pensiun dan manajer investasi menjelang akhir semester satu 2020. Rebalancing portfolio semesteran ini biasanya terjadi untuk mengambil untung di saham dan emas, untuk kemudian dimasukkan ke obligasi yang tergolong aman. Bagaimanapun trend bullish Emas diperkirakan masih stabil, jika terjadi koreksi ke zona support $1732 – $1717 per troy ons bakal dimanfaatkan sebagai aksi buying oleh para pelaku pasar untuk mengejar fase kenaikan Emas berikutnya di atas $1799 per troy ons.

Tema Staglasi Ekonomi Cenderung Bullish Untuk Komoditas Minyak

Harga minyak kembali anjlok mengikuti kejatuhan indeks saham Wall Street dibayangi oleh sentimen pengalihan resiko para investor ditengah meningkatnya jumlah kasus infeksi Corona yang menekan permintaan. Menurut data Reuters, kasus Covid-19 naik 25% di AS minggu lalu dan jumlah kematian di Amerika Latin sudah mencapai 100 ribu pada hari ini. Negara bagian Arizona, California, dan Texas melaporkan rekor kasus positif harian. Sedangkan di Houston diperkirakan akan mencapai kapasitas penuh ruang ICU besok. Alhasil indeks saham terhantam, Nasdaq ditutup -2%, SP500 -2.6% dan indeks Dow Jones -2.7%. Sentimen negatif di bursa wall Street ini menular ke minyak WTI, dimana aksi selling terjadi persis setelah harga minyak WTI menutup gap di bulan Maret. Sejauh ini minyak WTI tertekan 5.9% selloff. Tema stagflasi ekonomi potensial mendorong minat buying minyak WTI jika drop ke kisaran $35.03 – $35.72 per barrel.

The rate and other information rendered herein by education & analysis PT Handal Semesta Berjangka has been obtained from sources we believe reliable, but we can’t represent that they are complete and accurate. We are not responsible to any offer to sell or solicitation of an offer to purchase base on the rate and information contained.

Disclaimer

Artikel di atas hanyalah sebagai informasi dan pendidikan saja. Informasi di atas tidak bertujuan untuk dijadikan saran. Produk dengan leverage memiliki tingkat risiko yang tinggi terhadap modal yang Anda investasikan. Nilai investasi dapat turun atau naik dan Anda dapat kehilangan pembayaran margin awal Anda. Pastikan Anda telah memahami sepenuhnya semua risiko yang terlibat.

Klik disini untuk trading forex, emas, oil dan index saham di HSB Investasi. Segera daftar untuk mendapatkan kesempatan komisi trading hingga $0 / lot.