RINGKASAN

▪ Stimulus Tambahan Gedung Putih & Dampaknya Terhadap Dollar
▪ Emas Perkasa Paska Komentar Negatif Terkait Kesepakatan Dagang AS-Tiongkok
▪ Tema Stagflasi Cenderung Bullish Untuk Komoditas Minyak

Stimulus Tambahan Gedung Putih & Dampaknya Terhadap Dollar

Dolar melemah tajam dan mata uang berimbal hasil tinggi rebound setelah Gedung Putih lontarkan komentar bahwa stimulus dapat diperpanjang setelah kadaluarsa per bulan July nanti. Perpanjangan stimulus fiskal maupun moneter belum diketahui angka pasti, namun Menteri Mnuchin memperkirakan besaran stimulus di kisaran $1 trilyun Dollar. Alhasil stimulus tambahan Gedung Putih ini menggeser fokus market pada prospek untuk pemulihan ekonomi dari pandemi COVID-19. Mata uang berisiko diburu, bahkan ketika tanda-tanda untuk menahan virus corona mulai mengendur. WHO melaporkan rekor peningkatan dalam kasus infeksi virus corona global pada hari Minggu, dengan Amerika Utara dan Amerika Selatan menunjukkan kenaikan terbesar. Sementara itu, solidnya data ekonomi telah meningkatkan harapan ekonomi akan kembali bangkit dari penutupan aktivitas bisnis yang sebelumnya dilakukan untuk menahan penyebaran virus. Namun, investor tetap waspada akan adanya lockdown kembali. Sementara ini scenario pemulihan ekonomi akibat berbagai stimulus dan harapan membaiknya ekonomi berpotensi menopang kinerja mata uang non dollar. Pairing EURUSD potensial kembali terkerek naik ke top range 1.14, sedangkan USDJPY berpeluang uji bottom range 106.23, dan GBPUSD secara perlahan menuju ke range atas 1.28.

Emas Perkasa Paska Komentar Negatif Terkait Kesepakatan Dagang

Harga emas menguat signifikan dan bertahan diatas level $1750 per troy ons, karena masih tingginya minat beli safe haven atas instrumen tersebut terutama setelah terdapat komentar mengejutkan dari pejabat tinggi AS terkait kesepakatan dagang AS-Tiongkok yang dianggap sudah berakhir. Hal ini memicu kecemasan baru pada para pelaku pasar sehingga Emas tetap stabil sebagai safe haven. Selain itu di periode siklus pelambatan ekonomi namun inflasi berpotensi naik, maka komoditas seperti Emas cenderung positif. Perkiraan range trading Emas di kisaran $1704 – $1766 untuk jangka panjang. Mendekati area top range $1766 rentan koreksi, sehingga strategi terbaik adalah menunggu adanya koreksi harga ke bottom range kisaran $1704 untuk melakukan aksi beli.

Tema Staglasi Ekonomi Cenderung Bullish Untuk Komoditas Minyak

Harga minyak meroket lagi karena pengetatan pasokan dari produsen minyak dunia dan berkurangnya kekhawatiran lockdown. Meski demikian reli terbatas karena peningkatan kasus baru virus corona mungkin akan menghambat pemulihan permintaan minyak dunia. Kenaikan minyak didoorong oleh turunnya jumlah rig minyak di Kanada dan AS. Sementara itu, OPEC+ belum memutuskan apakah akan memperpanjang rekor pengurangan pasokan sebesar 9,7 juta bph menjadi bulan keempat, sehingga akan berjalan hingga akhir Agustus. Di sisi lain, Rusia mengatakan bahwa $40 hingga $50 per barel adalah harga yang wajar bagi minyak. Namun secara keseluruhan tema market hingga akhir tahun adalah periode stagflasi, dimana kondisi pertumbuhan ekonomi melambat, namun inflasi meningkat akibat devaluasi Dollar. Kondisi stagflasi ini cenderung menopang performa berbagai komoditas termasuk minyak mentah AS berjangka. Penguatan Minyak diperkirakan berlanjut ke kisaran $42.35 per barrel, sedangkan di sisi bawahnya, level support $34.96 akan menjadi zona buying para pelaku pasar.

Disclaimer

Artikel di atas hanyalah sebagai informasi dan pendidikan saja. Informasi di atas tidak bertujuan untuk dijadikan saran. Produk dengan leverage memiliki tingkat risiko yang tinggi terhadap modal yang Anda investasikan. Nilai investasi dapat turun atau naik dan Anda dapat kehilangan pembayaran margin awal Anda. Pastikan Anda telah memahami sepenuhnya semua risiko yang terlibat.

Klik disini untuk trading forex, emas, oil dan index saham di HSB Investasi. Segera daftar untuk mendapatkan kesempatan komisi trading hingga $0 / lot.