RINGKASAN 17 Maret 2020

  • Poundsterling Berpotensi Tertekan Langkah BoE
  • Meski Emas Ambruk, Namun Potensial Berikan Peluang Buy On Dip
  • Minyak Potensial Turun Incar Target $29.50 Per Barrel

Poundsterling Berpotensi Tertekan Langkah BoE

Stimulus yang dijalankan the Fed, RBNZ an BoJ tidak memberikan dukungan yang jelas terhadap sentimen pasar. Investor masih dibayangi kekhawatiran virus corona, yang jumlah kasusnya terus meningkat, menembus 170 ribu kemarin dengan total kematian mencapai 6.680 orang. Aksi jual melanda bursa saham global karena kekhawatiran pandemi tersebut. Pasar uang juga tak luput dari guncangan tersebut. Mata uang berbasis komoditas menjadi mata uang dengan performa terburuk kemarin, dipimpin oleh Ausie. Sementara mata uang safe haven, seperti yen dan Swiss Franc berhasil menguat. Sementara BOE siap untuk mengambil tindakan terhadap dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh virus corona. Hal tersebut dikatakan oleh ketua BoE yang baru Andrew Bailey dalam wawancaranya dengan BBC kemarin. Bailey mengatakan bahwa pihaknya memastikan bahwa kerusakan ekonomi tidak akan permanen yang akan membebani pertumbuhan Inggris ke depan. Minggu lalu, BoE memangkas suku bunga sebesar 50 bps dan meluncurkan langkah-langkah kredit darurat untuk mendukung perusahaan yang dirugikan oleh Covid-19. Dimana hal ini berdampak pada Poundsterling yang berpeluang turun ke level support 1.2200. Sementara level resisten 1.2400 akan dilirik menjadi zona selling para pelaku pasar.

Meski Emas Ambruk, Namun Potensial Berikan Peluang Buy On Dip

Harga Emas jatuh ke area $1450 per troy onz kemarin karena kebutuhan margin call di saat investor membutuhkan dana untuk menutpi kerugian yang diderita dari pasar saham. Pasar saham AS kembali tumbang, dengan indeks Dow Jones dan S&P 500 anjlok lebih dari 9%, meski setelah the Fed pangkas suku bunga mendekati 0% dan pembelian asset sebesar $700 milar. Investor terus menjual aset emasnya karena mereka membutuhkan dana yang cepat. Namun kebanyakan analis masih meyakini kejatuhan Emas kemarin hanya semata profit taking dari efek margin call di pasar ekuitas lain. Setelah Emas bisa stabil dan naik kembali, Dollar AS yang bergantian tertekan akibat bank sentral perlu mencetak uang lebih banyak menimbulkan penurunan nilai intrinsik uang kertas. Di jangka pendek, Emas berpeluang naik menguji level resisten $1530 – $1545 per troy ons, sementara di sisi bawahnya, level support $1470 – $1460 akan menjadi zona buying para pelaku pasar.

Penurunan Minyak Potensial Terbatas di Support $24 Per Barrel

Harga minyak kembali jatuh kemarin karena kekhawatiran resesi dari dampak virus corona. Di Wall Street, indeks S&P 500 dan Nasdaq jatuh sekitar 12%, meski the Fed memangkas suku bunga mendekati 0% dalam rapat dadakan akhir minggu lalu. The Fed juga akan menjalankan pembelian asset sebesar $700 miliar untuk mendorong pasar. Harga minyak semakin jatuh setelah IHS Markit memperkirakan bahwa surplus minyak akan berada di kisaran 800 sampai 1,3 juta barel dalam enam bulan pertama tahun ini, surplus global enam bulan terbesar sejak tahun 2000. Kelebihan pasokan yang membayangi pasar minyak disebabkan oleh adanya larangan travelling dari udara, darat dan laut, serta naiknya produksi dari Arab Saudi. Maskapai penerbangan, seperti American Airlines telah memangkas 75% dari kapasitas internasional mereka setelah Trump mengumumkan larangan wisatawan Eropa ke AS. Harga minyak WTI secara keseluruhan turun 50% Year to Date ke level $29.95 per barrel. Bottom minyak diperkirakan berada di kisaran $24 per barrel, dari titik tersebut berpotensi naik kembali ke kisaran $34.70 per barrel.

Disclaimer

The rate and other information rendered herein by education & analysis HSB has been obtained from sources we believe reliable, but we can’t represent that they are complete and accurate. We are not responsible to any offer to sell or solicitation of an offer to purchase base on the rate and information contained.